Demikian diungkapkan Gubernur BI Agus Martowardojo di di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (8/7/2015)
"Studi kami kalau pertumbuhan ekonomi China tergerus 1%, dampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 0,4-0,6%. Jadi kami betul-betul harus perhatikan," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, China juga merupakan pusat bagi perekonomian regional. Maka ketika regional mengalami perlambatan ekonomi, maka permintaan barang dari Indonesia pun ikut menurun.
"Kalau koreksinya sangat tajam dan sekarang sudah terlihat beberapa indikatornya, maka akan ada dampak untuk Indonesia," terang Agus.
Sebelum memasuki 2012, perekonomian China mampu tumbuh di atas 10%. Kemudian terus melambat dan tahun ini diproyeksikan hanya akan tumbuh sekitar 7%.
Agus menambahkan, dalam persoalan pasar saham di China, keputusan untuk intervensi merupakan sebuah keberanian. Meskipun pada akhirnya saham di negeri tirai bambu tersebut tetap jatuh.
"Kalau saham biasanya dibiarkan sesuai dengan mekanisme pasar, kami melihat dana yang dihabiskan US$ 16 miliar-US$ 18 miliar. Tapi tetap jatuh harga sahamnya. Memang ini yang harus kami waspadai," ujar Agus.
(mkl/dnl)











































