Grup Usaha Orang Terkaya RI Ini Sisihkan Rp 100 M/Tahun untuk Sosial

Grup Usaha Orang Terkaya RI Ini Sisihkan Rp 100 M/Tahun untuk Sosial

Lani Pujiastuti - detikFinance
Rabu, 08 Jul 2015 21:18 WIB
Grup Usaha Orang Terkaya RI Ini Sisihkan Rp 100 M/Tahun untuk Sosial
Jakarta - Pengusaha Sukanto Tanoto hampir setiap tahun masuk daftar orang terkaya di Indonesia. Tahun lalu, Sukanto masuk daftar 10 orang terkaya di negeri ini versi Forbes dengan harta US$ 2,1 miliar (Rp 25,2 triliun).

Ia memulai usaha di industri pengolahan kayu dan kehutanan pada tahun 1972. Bisnis Sukanto Tanoto dijalankan oleh kelompok usaha the Royal Golden Eagle International (RGEI), yang dulu dikenal sebagai Raja Garuda Mas

Pria berumur 64 tahun ini memiliki Tanoto Foundation, yang melakukan kegiatan filantropi dari kegiatan usaha RGEI Group. Bidang usaha yang dijalankan yaitu perkebunan sawit PT Asian Agri dan hutan tanaman industri (HTI) dari Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Setiap tahunnya, Tanoto Foundation menyisihkan Rp 100 miliar untuk kegiatan sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tanoto Foundation kelola dana filantropi Rp 100 miliar tiap tahunnya," kata Manajer Program CSR Tanoto Foundation, Lukman Moeslich di Hotel Atlet Century Park, Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2015)

Pengurus Tanoto Foundation Sihol Aritonang mengatakan, dana yang dikelola tersebut disalurkan untuk berbagai kegiatan sosial seperti pendidikan, pemberdayaan petani, UMKM, dan lainnya. Misalnya mereka menyalurkan beasiswa swasta terbesar di Indonesia dari tingkat PAUD hingga S3. Sejak 2006, sebanyak 5.200 orang penerima beasiswa ke 28 perguruan tinggi.

Selain itu, di sekitar lokasi usaha yang terletak di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi, mereka melakukan pemberdayaan masyarakat dan petani plasma. Sebanyak 26.000 petani plasma di lahan seluas 60.000 hektar kebun sawit di bawah Asian Agri.

"Awal pemberdayaan petani kelapa sawit dimulai dari kegiatan transmigrasi tahun 1980-an. Para transmigran di Riau dan Jambi diberi lahan masing-masing 2,5 hektar. Jadi 2 hektar untuk perkebunan dan sisanya untuk tempat tinggal," kata Sihol.

(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads