Hal ini karena para pedagang dirugikan dengan keberadaan truk tersebut yang menjual bawang hingga gula dengan harga murah daripada harga di pasar.
"Mereka pengelola pasar (PD Pasar Jaya) sudah kirim surat ke kita (Bulog), ada aspirasi dari para pedagang yang mengalami kerugian sejak keberadaan truk OP Bulog," kata Wakil Kepala Divisi Perum Bulog Regional Jakarta-Banten, Fatah Yasin, dihubungi detikFinance, Kamis (9/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengelola pasar kan hanya menyampaikan keluhannya pedagang. Saya kira wajar, kita juga masih banyak pasar yang belum kita sentuh. Kita nggak ada tindakan," ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan truk OP di Pasar Johar Baru sudah berhasil menurunkan harga di pasar tersebut, sehingga hal ini justru membuat pedagang menjadi rugi.
"Saya kira semua itu sudah menunjukkan Bulog sudah berhasil. Makanya kan harganya di Pasar Hojar Baru turun waktu itu, pedagang jadi rugi, makanya minta kita pindah," tutup Fatah.
Salah satu truk OP yang berjualan di Pasar Johar Baru, Jakarta Pusat justru sempat diusir oleh pengelola pasar, tidak boleh lagi berjualan.
Hal tersebut seperti diungkapkan sopir truk OP yang juga pegawai Bulog, Sumito ketika ditemui detikFinance, di Pasar Rawasari, Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2015).
"Saya tidak boleh lagi jualan sejak Sabtu (4/7/2015), kita diusir oleh kepala pasarnya, alasannya jadwal operasi pasar sudah habis, jadi tidak boleh lagi jualan di sana," kata Sumito.
(rrd/hen)










































