Jokowi: Ekonomi Kita Alami Deindustrialisasi

Jokowi: Ekonomi Kita Alami Deindustrialisasi

Zulfi Suhendra - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2015 15:41 WIB
Jokowi: Ekonomi Kita Alami Deindustrialisasi
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui ekonomi Indonesia sudah mengalami deindustrialisasi dalam beberapa tahun terakhir. Hal karena adanya kebiasan impor barang padahal sudah bisa diproduksi di dalam negeri termasuk sektor industri galangan kapal.

Deindustrialisasi yaitu terjadi penurunan peranan industri terhadap ekonomi karena banyaknya impor barang.

"Satu lagi ketimpangan ekonomi yang terjadi adalah industri kita yang ketinggalan sekali. Bahkan beberapa tahun terakhir ekonomi kita deindustrialisasi, tren ini harus kita balikkan," kata Jokowi dalam acara Presiden Jokowi menjawab tantangan ekonomi di ruang cendrawasih JCC, Jakarta, Gatot Soebroto, Kamis (9/7/2015)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk itu, pemerintahannya tak akan lagi mengizinkan impor kapal untuk kebutuhan pemerintah termasuk BUMN. Ia beralasan kebiasaan impor merupakan tidak berkelanjutan karena Indonesia harus hemat devisa dan memenuhi dari kebutuhan dalam negeri.

"Sehingga dalam rapat terbatas saya perintahkan, pemerintah tidak boleh lagi pesan kapal dari luar negeri, tidak boleh impor, buat sendiri di dalam negeri, karena kita kuat, ini memperbaiki neraca perdagangan. kita harus perbaiki industri dalam negeri," katanya.

Selain itu, Jokowi menegaskan Indonesia memerlukan revolusi di budaya manajemen dalam menghadapi pelemahan kurs dan kenaikan harga barang impor, sehingga produsen jangan langsung menaikkan harga.

"Biasanya kurs naik, harga naik. Kita harus berpikir bagaimana bisa menekan ongkos dan mengefisienkan biaya, mengubah sistem produksi, dan distribusi, dan mengubah desain supaya efisien. Jangan gampangnya aja, kurs naik harga naik. Jadi tidak mau berpikir mengubah sistem produksi, distribusi, dan desain," katanya.

Acara yang dibuka oleh Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Darmin Nasution ini dihadiri oleh kalangan perbankan, dunia usaha seperti Kadin, Apindo, Hipmi, REI dan lain-lain.

(hen/rrd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads