Dalam paparannya Jokowi menekankan bahwa ekonomi Indonesia sedang beralih dari ekonomi yang mengandalkan barang mentah atau komoditas menjadi ekonomi yang punya motor penggerak baru yaitu mengolah nilai tambah di dalam negeri melalui industrialisasi dan pembangunan infrastruktur, namun mesin penggerak baru ini butuh masa transisi.
"Ekonomi melambat, karena harus kita pahami ekonomi kita baru mengakhiri suatu siklus, dan kita arahkan ke siklus yang baru. Itulah yang saya sebut transisi, beralih dari konsumsi ke produksi, dari konsumsi ke investasi. Dan mesin pertumbuhan yang lalu yaitu komoditas mentah tidak bisa diandalkan, kita harus masuk ke hilir dan industrialisasi. Nikel, tembaga, bauksit sudah tidak bisa lagi menghasilkan kemakmuran karena harga komoditas anjlok turun," kata Jokowi dalam acara Presiden Jokowi menjawab tantangan ekonomi di ruang cendrawasih JCC, Jakarta, Jalan Gatot Soebroto, Kamis (9/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu sudah tamat. Itu 10 tahun lagi belum tentu datang. Maka harus ada yangg dibangun lagi," kata Darmin usai acara tersebut.
Sementara itu, ekonom Anggito Abimanyu menggarisbawahi apa yang dipaparkan Presiden Jokowi yang terpenting adalah soal pelaksanaannya. Ia menilai apa yang disampaikan Jokowi hari ini belum detil.
"Pada akhirnya itu eksekusi, itu kan paling tidak, tadi seharunya ada regulasi, kemudian baru action. Itu belum beliau jelaskan. Misalnya memebasakan tanah lebeih cepat, mengundang investor asing itu tools-nya apa. Apa stimulus, insentifnya apa. Itu harunya dijelaskan," kata Anggito.
Ia mengatakan seharusnya Presiden Jokowi menyebutkan secara konkret soal regulasi dalam menjamin kenyamanan dan kemudahan.
"Pak Darmin sudah memancing, anggaran lambat, gimana cara mempercepat. Presiden harus ada pesannya. Misalnya pemotongan waktu lelang. Penetapan pemenang tender itu lebih cepat," kata Anggito.
Anggito mendesak pemerintah ada regulasi baru untuk mengatasi masalah pembebasan tanah, soal percepatan pengadaan barang dan jasa. Hal ini akan membantu mendorong ekonomi dari sisi anggaran belanja pemerintah.
"Kalau langkah-langkah dilakukan pencairan anggaran lebih cepat. Maka itu bisa saja terwujud," katanya.
Sementara itu, ekonom dari ISEI Lana Soelistianingsih mengatakan, hal-hal yang disampaikan Presiden Jokowi sudah dieksplorasi sebelumnya, sehingga ia berharap ada sesuatu yang baru sehingga mampu mewujudkan optimisme itu tahun depan.
"Tapi kan perlu confident. Sekarang kan masalah penyerapan anggaran. Belum ada yang baru dari yang disampaikan Presiden. Walaupun begitu, ini bagus untuk jangka panjang. Time leg-nya lumayan kan 6 bulan ke depan. Jadi masih ada waktu untuk memberikan confident," katanya.
(hen/rrd)











































