Pedagang ke Mendag: Kami Nangis, di Brebes Banyak Bawang Tapi Tak Sampai Pasar Induk

Pedagang ke Mendag: Kami Nangis, di Brebes Banyak Bawang Tapi Tak Sampai Pasar Induk

Muhammad Idris - detikFinance
Jumat, 10 Jul 2015 04:15 WIB
Pedagang ke Mendag: Kami Nangis, di Brebes Banyak Bawang Tapi Tak Sampai Pasar Induk
Foto: Mendag Gobel Sahur di Kramat Jati (Idris-detikFinance)
Jakarta -

Dini hari ini, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel blusukan ke Pasar Induk Kramat Jati, sambil sahur bareng para pedagang. Gobel berdiskusi dan meminta pedagang menyampaikan masalah-masalahnya.

Seorang satu pedagang bawang putih, yaitu Anas Sarnil, mencurahkan hatinya ke Gobel terkait kondisi harga bawang di dalam negeri, khususnya Jakarta.

Pria yang sejak 1981 berjualan di Pasar Induk Kramat Jati ini bercerita soal panjangnya rantai perdagangan bawang di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pernah tahun 2013 bawang putih sekilonya Rp 70 ribu, di China saja sekilo tidak sampai Rp 10 ribu. Kenapa bisa mahal, ada aturan pemerintah yang perpanjang rantai jadi mahal, panen kita cuma 10 persen, sisanya 90 persen impor China. Makanya Pak Menteri tolong benerin jalur distribusinya. Kalau telat datang harga naik, yang naik harga itu karena pasokan telat," kata Anas kepada Gobel, Jumat (10/7/2015).

Anas mengatakan, selama ini dirinya dan pedagang ingin sekali berdialog dan menyampaikan keluhannya kepada pemerintah. Soal bawang putih, menurut Anas, impor masih diperlukan karena produksi di dalam negeri yang kurang. Bila ada kekurangan pasokan, harga bisa langsung naik.

"Setelah 2013, bawang putih paling mahal Rp 15 ribu, tapi bawang merah belum bisa. Kami nangis, dari Brebes banyak panen tapi bawang nggak sampai pasar induk. Jangan sampai bawangnya itu ditahan, ke mana itu bawang. Bawang putih juga. Selain itu Bawang bombay juga produksi sendiri cuma 5 persen, sisanya impor New Zealand dan India," papar Anas.

Soal rantai distribusi bawang putih, Anas bercerita, saat ini bongkar muat bawang putih dilakukan di Surabaya. Ini cukup jauh dari Jakarta dan membuat rantai distribusi makin panjang. Belum lagi ongkos pengiriman makin mahal dengan subsidi BBM yang dihapus saat ini.

"Jadi supaya bongkar muat ada di jakarta lagi. Saya minta tolong Pak Menteri perbaiki. Jadi selama kami hidup baru pertama Pak Menteri mau sahur bareng kami," kata Anas.

Soal bawang putih, Anas mengatakan, produksi di dalam negeri hanya untuk memenuhi 10% kebutuhan, sehingga impor diperlukan. Bila tidak, harga bakal melambung bila pasokan tidak ada. Jadi bawang putih mahal bukan karena permainan mafia.

"Terlambat pasokannya, masa dikatakan kami mafia. Bukan itu, bukan kami yang naikan harga," jelas Anas.

Menjawab keluhan ini, Gobel berjanji akan menyelesaikan masalahnya.

"Saya datang ke sini nggak mau lihat harga. Saya mau lihat Bapak-Bapak saja. Bapak-Bapak sudah kerja memenuhi kebutuhan masyarakat, nggak mau bahas soal harga dulu. Kalau tiap hari ngomong kerja capek, nanti saya akan atur, ini impor jadi susah memang. Susah memang bawang putih ini," kata Gobel.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads