Firmanzah, Rektor Universitas Paramadinaβ menjelaskan, kondisi tersebut bukanlah persoalan sederhana. Pemerintah melalui menteri-menteri ekonomi harus memantau secara terus menerus, bahkan saat libur lebaran Iduβl Fitri.
"Kabinet kerja bidang ekonomi mungkin liburan lebarannya tak akan nyaman. Karena pasar saham Tiongkok masih terus jalan, harus juga mengikuti rapat-rapat di FOMC, dan termasuk kepastian dana talangan Yunani," ungkapnya dalam diskusi di Kedai Kopi Tjikini, Jakarta, Minggu (12/7/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mau tidak mau memang kita harus mengikuti. Sebab setiap kali ada keputusan, pemerintah harus segera menyiapkan antisipasinya," terang Firmansyah.
Meskipun dalam kasus Yunani tidak bersentuhan langsung dengan Indonesia.β Karena dari sisi perdagangan antara Indonesia dengan Yunani sangatlah kecil.
"Meskipun ekspor dan investasi dengan Yunani itu kecil.β Tapi ketika Yunani misalnya keluar dari Euro, ini akan memicu aliran dana ke AS dan membuat dolar AS menjadi kuat terhadap semua mata uang termasuk dengan rupiah," jelasnya.
Di samping itu, The Fed telah memberikan indikasi bahwa akan menaikan suku bunga pada September 2015. Maka beberapa pertemuan yang terjadi, harus tetap diikuti oleh pemerintah.
"The Fed sudah ancang-ancang bahwa akan naikan suku bunga pada September. Otomatis BI juga akan naikan suku bunga buat menahan pelemahan rupiah," tukasnya.
(mkl/ang)











































