Berdasarkan pengakuan pedagang, tak biasanya lapak dagangan mereka sepi pembeli padahal jelang Lebaran. Kini omzet mereka pun menurun drastis dibanding tahun lalu. Rata-rata penjualan turun sedikitnya 50%.
"Sepi, semuanya susah sekarang. Mungkin orang-orang pada susah juga, harga-harga pada naikβ, barang-barang mahal, jadi mau belanja juga mereka pas-pasan. Mungkin karena faktor itu," kata seorang pedagang kemeja dan pakaian wanita, Yadi kala ditemui di lokasi, Senin (13/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang keadaannya beda jauh dibanding tahun sebelumnya," katanya.
Pedagang pakaian dan tas wanita di lokasi yang sama, Windi juga mengatakan hal senada. Menurutnya, selain daya beli masyarakat yang turun, sepinya pembeli disebabkan karena orang sudah sibuk dengan persiapan mudik.
"Mungkin ada yang sudah bikin kue juga, ada yang mudik sebagian, sepi mas," tuturnya.
Mereka berdua kompak beranggapan bahwa tak ada kekhawatiran masyarakat terhadap pakaian bekas. Mereka menduga, sepinya pembeli semata-mata karena daya beli yang turun di tengah harga-harga sedang naik.
"Pasar kita masih ada kok, nggak ada kekhawatiran. Masih ada yang beli juga," katanya
Biasanya mereka mengantongi omzet Rp 2 juta bahkan Rp 3 juta sehari. Kini untuk mendapatkan Rp 1 juta per hari pun mereka mengaku sangat bersyukur.
Billy, pedagang kaos oblong dan sweater di Pasar Senen, Jakarta heran dengan kondisi sepinya pembeli di lapak dagang di pasar ini. Padahal, di tahun lalu, kondisi seperti ini jarang terjadi, apalagi menjelang Hari Raya Lebaran.
β"Susah kalau sekarang. Kalau tahun lalu biasanya mau lebaran itu sudah ramai," tutur Billy.
Sepinya pembeli tentu berpengaruh pada omzet. Tak banyak yang pedagang pakaian impor ini bisa harapkan dari sepinya pembeli. Billy mengaku, penurunan omzet yang dia alami bisa mencapai 50%.
"Biasanya sehari bisa dapat Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, sekarang Rp 1 juta saja sudah gede banget, kalau lagi ramai. Sekarang paling Rp 500.000," katanya.
(zul/hen)











































