"Tercatat sampai akhir Juni 2015 importasi sapi bakalan tercatat 298.861 ekor," ungkap Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno, saat jumpa pers di Gedung C Kementerian Pertanian, Senin (13/7/2015).
Muladno menjelaskan, pihaknya punya tanggung jawab menjamin kestabilan ketersediaan daging sapi namun masih harus mengendalikan impor sapi. Tahun 2015 masih menyisakan kuartal III dan IV yang berpeluang kembali mendatangkan sapi bakalan impor totalnya mencapai 500.000-600.000 ekor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengetatan impor sapi bakalan akan berhadapan dengan risiko depopulasi atau pemotongan sapi-sapi betina lokal produktif seperti yang sudah terjadi tahun-tahun sebelumnya.
"Depopulasi masih terjadi, itu PR kita supaya bisa ditekan," ungkap Direktur Budidaya Ternak Fauzi Lufthan.
Fauzi mengungkapkan tahun 2014 realisasi impor sapi bakalan 729.400 ekor. "Tahun lalu realisasi impor sapi bakalan dari Australia sebanyak 729.400 ekor. Tahun ini kami tidak tetapkan kuota impor sapi bakalan," ujar Fauzi.
Berdasarkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sepanjang tahun 2013 ada impor sebanyak 409.137 ekor sapi. Pada 2012 sempat ada pemangkasan kuota impor sapi bakalan dari 400.000 ekor menjadi 283.000 ekor.
- Triwulan I-2013 total realisasi impor sapi bakalan capai 56.592 ekor jauh lebih rendah dari izin impor yang dikeluarkan sebanyak 56.604 ekor.
- Triwulan II-2013 realiasi impor mencapai 117.747 ekor dari izin yang dikeluarkan 117.931 ekor.
- Triwulan III-2013 realisasinya 45.970 ekor dari izin yang dikeluarkan hanya 46.231 ekor.
- Triwulan IV-2013 realiasi sebanyak 41.945 ekor dari izin yang dikeluarkan sebanyak 46.231 ekor.











































