Dalam paparan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo yang dikutip, Selasa (14/7/2015), disebutkan, berakhirnya era booming harga komoditas sejak akhir 2011, membuat ekspor Indonesia menurun dan tergerus nilai impor, sehingga transaksi berjalan menjadi defisit.
Penurunan nilai ekspor terjadi untuk ekspor yang berbasis sumber daya alam (SDA).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tengah pelemahan harga komoditas, struktur ekspor Indonesia yang didominasi produk berbasis SDA mentah (primer) sangat terdampak. Oleh karena itu, urgensi hilirisasi produk SDA tidak bisa ditunda lagi," demikian isi paparan Agus Marto saat bertemu sejumlah pemimpin media massa tersebut.
Dari struktur ekspor non migas Indonesia, 48,2% merupakan produk manufaktur, dan 51,8% merupakan produk primer atau barang mentah.
Barang mentah ini antara lain terdiri dari, batu bara, minyak sawit, karet, bijih logam, metal lain, ikan, kopi coklat, teh, dan lainnya.
(dnl/dnl)











































