Saking rumitnya, sampai-sampai penentuan harga gas harus sampai ke level menteri hingga wakil presiden. Padahal gas merupakan bahan baku utama industri pupuk.
"Artinya sudah sering ngeluh. Setiap tanda tangan jual beli gas, makan waktu lama. Eskalasi sampai Menko (menteri koordinator) bahkan pernah diputuskan oleh Pak Wapres," kata Direktur Investasi dan Pengembangan Pupuk Indonesia, Nugraha Budi Eka Irianto saat buka puasa bersama di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gas berkontribusi 70% terhadap biaya produksi. Gas sebagai bahan baku utama untuk urea," ujarnya.
Eka menyebutkan Pupuk Indonesia memiliki beberapa pabrik yang tersebar di Jawa, Kalimantan hingga Sumatera. Dari pabrik yang ada, harga beli gas berbeda-beda.
"US$ 5,5 per MMBTU untuk Palembang. Kaltim, kita ada bayar US$ 7,4," ujarnya.
Bila dibandingkan dengan Malaysia, harga gas di sana seragam bahkan dijual lebih murah. Alasannya, pihak kontraktor di Malaysia yakni Petronas bertugas sebagai regulator sedangkan Indonesia harga gas ditentukan oleh setiap kontraktor migas.
"Malaysia harga US$ 4,5 per 1 MMBTU. Di sana dikontrol Petronas. Di kita bukan hanya Pertamina yang jual. Pertamina kecil porsinya kecuali dapat Blok Mahakam. Kita ada Exxon, Conoco Philip. Kemudian ada Chevron," sebutnya.
(feb/hen)











































