Anton Hendranata, Kepala Ekonom Bank Danamon memproyeksikan, perekonomian tahun ini tidak akan melebih 5%. Setelah realisasi pada kuartal I-2015 hanya mencapai 4,7% dan kuartal II-2015 juga pada kisaran yang sama.
"Melihat 2015, saya kira kita harus berbesar hati bahwa ekonomi di atas 5% rasanya sulit. Realisasinya di bawah itu pada kisaran 4,8%," ungkapnya, dalam diskusi dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (14/7/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Impor menurun, dan inflasi yang rendah, tapi itu bukan berarti positif, karena biasanya puasa itu naik, tapi sekarang (inflasi) 0,54% itu karena daya beli turun.
Dengan waktu 6 bulan lagi rasanya di atas 5%. Itu sulit," paparnya.
Dengan realisasi tersebut, para investor awalnya cukup memaklumi. Terutama dengan dikemukakannya alasan terlambat dalam pengesahan APBN, dan perkembangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
"Awalnya market bisa mengerti alasan yang disampaikan. Tapi ada beberapa hal yang kemudian sedikit janggal. Misalnya K/L (Kementerian/Lembaga) yang nggak ada perubahan nomenklatur malah juga rendah penyerapannya. Ini membuat persepsi negatif di pasar," terang Anton.
"Idenya sebenarnya bagus, tapi Pak Jokowi minta A ke bawah hasilnya jauh dari A. Seperti dipaksa ada smelter, tapi pasokan listrik nggak ada. Menjanjikan investasi mudah, tapi saya ada ketemu Kadin EURO ternyata birokrasi kok makin sulit," ungkapnya.
Persepsi negatif ini juga terlihat pada nilai tukar rupiah. Tren pelemahan nilai tukar masih terus berlanjut dan mengakibatkan cadangan devisa terkuras cukup besar dalam beberapa waktu terakhir.
"Rupiah, persepsinya cenderung depresiasi, jadi. Ketika rupiah hendak ke bawah Rp 13.300/US$, itu masih banyak yang beli. Karena market menganggap masih bisa mengarah ke Rp 14.000/US$," tukasnya.
(mkl/dnl)











































