Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia di bulan Juni 2015 surplus sebesar US$ 477 juta. Surplus bulan Juni ini lebih rendah dibandingkan Mei 2015 sebesar US$ 950 juta. Sementara di bulan Januari-Juni 2015 tercatat surplus US$ 4,35 miliar.
"Impor turunnya lebih tajam sehingga surplus, harapan kita ke depan surplus bisa lebih baik," kata Kepala BPS Suryamin saat konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (15/7/2015).
Suryamin menyebutkan, ekspor Juni 2015 mencapai US$ 13,44 miliar, naik 5,91% dibanding Mei 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan ekspor di bulan Juni didorong oleh naiknya ekspor migas dan non migas. Mei-Juni ekspor migas naik 5,91% dari US$1,37 miliar menjadi US$ 1,46 miliar, non migas naik 5,87% dari US$ 11,32 miliar menjadi US$ 11,98 miliar.
Dari sisi impor, realisasinya bulan Juni 2015 sebesar US$ 12,96 miliar atau merosot 17,42% dibanding Juni tahun lalu yang mencapai US$ 15,70 miliar. Sementara dibanding Mei 2015, kinerja impor Juni ini naik 11,63. Pencapaian impor sepanjang semester I-2015 sebesar US$ 73,94 miliar atau turun 17,81%.
Suryamin menyebutkan, realisasi kinerja neraca perdagangan bulan Juni ini sebesar US$ 477 juta lebih baik dibandingkan tiga tahun sebelumnya yang masih mencatatkan defisit.
Indonesia pernah mengalami surplus di neraca perdagangan pada Juni 2011 sebesar US$ 3,3 miliar.
"Defisit di Juni 2012 menjadi US$ 1,28 miliar, lalu menurun menjadi defisit US$ 877,2 juta di periode yang sama 2013 dan Juni 2014 defisit sebesar US$ 288,3 juta," sebut dia.
Sementara di Januari-Juni 2011, Indonesia juga mencatat surplus neraca perdagangan hingga US$ 15 miliar, tahun 2012 menjadi US$ 510 juta.
Sedangkan semester I-2013, realisasi defisit US$ 3,34 miliar dan defisit US$ 1,29 miliar di 2014.
"Sekarang surplus US$ 4,35 miliar. Mudah-mudahan ini gambaran bagus buat kinerja perdagangan kita," kata Suryamin.
(drk/ang)











































