"Yah karena kemarau sudah lama dari bulan Mei debit air sudah sedikit sekali. Juga karena kiriman air dari Waduk Darma di Kuningan sudah tidak ada," kata Amin, Ketua Bidang Organisasi Dewan Bawang Nasional, saat dihubungi detikFinance, Kamis (16/7/2015).
Amin yang juga petani bawang ini mengungkapkan, area sawah mengalami dampak terparah dari kekeringan yang melanda wilayah Pantai Utara Jawa tersebut. "Untuk sementara padi saja yang kena, tapi kalau bawang (merah), apalagi jagung belum banyak dampaknya," jelas Amin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Amin, kesulitan air tersebut sudah menyebabkan beberapa sawah padi di wilayah tersebut mengalami kegagalan panen. "Saya lihat di paling banyak di Cirebon yang padi sudah mulai gagal panen. Terus banyak juga sawah yang sudah rusak di daerah Majalengka," katanya.
Amin mengatakan, jika kondisi tersebut terus berlanjut sampai satu bulan ke depan, gagal panen dipastikan akan semakin meluas. "Yang paling terkena jelas padi, kalau bawang masih bisa pakai air dari sumur. Nah kalau satu bulan lagi masih belum turun hujan baru efeknya besar," ungkap Amin.
Dia melanjutkan, jaringan irigasi di kedua wilayah tersebut juga saat ini mengalami banyak kerusakan. "Ada banyak yang rusak sejak lama, belum juga diperbaiki sama pemerintah, terutama sedimentasi yang bikin debit air juga jadi kurang," ungkap Amin.
Kerusakan saluran irigasi ini, lanjut Amin, membuat aliran air semakin menyempit dan membuat kiriman air jadi berkurang. "Jadi saya harap pemerintah perbaiki saluran irigasi, terutama yang saluran tersier. Bangun waduk di Cirebon atau Indramayu, sehingga petani tidak mengandalkan air cuma dari Kuningan saja," tambahnya.
Memang, bencana gelombang panas atau el nino bisa menyebabkan kemarau berkepanjangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan setidaknya akan ada 200.000 hektar lahan pertanian akan mengalami kekeringan akibat bencana ini.
(dnl/dnl)











































