Ketua Umum Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Indonesia (Apmiso) Trisetyo Budiman mengatakan harga daging sapi sempat menembus Rp 120.000/kg di tangan para pedanga bakso saat H-1 Lebaran. Harga ini sangat tinggi bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berada di harga Rp 70.000-80.000/Kg.
Menurut Tri, para pedagang bakso termasuk di Jakarta mencoba bertahan dengan melakukan penyesuaian bahan baku. Caranya mencampurkan bahan baku daging sapi dengan daging ayam. Namun langkah ini berdampak pada menurunnya kualitas dan rasa bakso para pedagang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini menurut Tri, diperparah dengan daya beli masyarakat yang menurun beberapa bulan terakhir. Penjualan bakso pada pekan pertama hingga ketiga cenderung menurun. Bahkan Tri yang memiliki usaha bakso INO ini harus menelan pil pahit karena anjloknya omzet.
"Penjualan di awal Puasa turun 40%-50%," kata Tri.
Tri mengatakan pihaknya tak akan tinggal diam dengan kondisi tingginya harga daging sapi yang bertahan tinggi dalam 2 tahun terakhir ini. Ia ingin sekali bertemu dengan Presiden Jokowi menyampaikan aspirasi para pedagang bakso di Indonesia, agar tingginya harga daging bisa diatasi pemerintah.
"Saya juga bingung kenapa harga daging sapi susah turun, padahal impor sudah dibuka lebar, ada apa ini?" tanya Tri.
Berdasarkan sistem pemantauan pasar kebutuhan pokok ditjen perdagangan dalam negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), harga daging sapi rata-rata nasional mencapai puncaknya pada 15 Juli 2015 atau H-2 Lebaran yaitu mencapai Rp 116.100/Kg, kemudian bertahap turun pada 18 Juli yang mencapai Rp 113.030/kg, kemudian kembali turun jadi Rp 111.808/kg pada hari ini (20/7/2015).
(hen/hen)











































