Negara-negara maju saat ini berlomba membangun kereta cepat atau high-speed railways (HSR). China sebagai pemilik teknologi sekaligus produsen HRS mampu menekan biaya investasi 30% lebih murah dibanding negara-negara di Eropa.
Tahun 2013, China tercatat telah menyelesaikan pembangunan jaringan kereta berkecepatan tinggi sepanjang 10.000 km. Rencana pembangunan HRS masih berlanjut hingga 2020.
Jaringan HSR China sekarang bahkan lebih besar dari jaringan HSR di seluruh Uni Eropa. Jaringan kereta cepat tersebut akan terus tumbuh, sebab terdapat rute sepanjang lebih dari 12.000 km kini sedang dalam proyek konstruksi di China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China memulai proyek jalur kereta cepat pada 2003. Proyek pertamanya yaitu jalur sepanjang 404 km dari Qinhuangdao ke Shenyang dengan kecepatan maksimum saat itu 250 km/jam. Saat ini, China mencatatkan diri sebagai produsen HSR bagi negara-negara lain.
Sebagai produsen, China mampu menyediakan HSR di negaranya dengan biaya 30% lebih murah dibanding negara-negara di Eropa seperti Jerman maupun Prancis.
Menurut laporan yang dirilis Bank Dunia, selain jarak ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya biaya konstruksi kereta cepat. Faktor tersebut diantaranya bentang alam atau topografi sepanjang jalur yang dilintasi, kondisi cuaca seperti suhu yang sangat rendah dan biaya pembebasan lahan.
Selain itu faktor biaya pembangunan sarana pendukung seperti terowongan, jembatan besar pada jalur yang melintasi sungai dan pembangunan mega stasiun.
Jalur yang melintasi sungai sehingga perlu jembatan serta jalur dengan topografi khusus seperti gunung biayanya jauh lebih tinggi dibandingkan jalur biasa.
Stasiun kereta api memainkan peran penting dalam jalur kereta cepat sebagai pusat sekaligus penghubung pusat-pusat kota. Biaya konstruksi sebuah stasiun kecil dengan luas 3.000 m2 yang dilintasi HSR sebesar 40 juta yuan atau Rp 84 miliar (kurs 1 Yuan:Rp 2100), sedangkan mega stasiun biayanya mencapai 13 miliar yuan atau Rp 27,3 triliun karena standarnya seperti bandara. Lalu biaya membangun konstruksi terowongan HSR di China sekitar Rp 133-200 miliar.
Laporan Bank Dunia menggambarkan biaya pembangunan rel kereta kecepatan tinggi di China cenderung lebih rendah daripada di negara-negara lain. Rel kecepatan tinggi China dengan kecepatan maksimum 350 km/jam biaya infrastrukturnya di China US$ 17-21 juta sekitar Rp 221-273 miliar/km sedangkan di Eropa US$ 25-39 juta atau Rp 325-507 miliar/km. Biaya tertinggi yaitu di California sebesar US$ 52 juta sekitar Rp 676 miliar/km.
Biaya di China bisa lebih rendah salah satunya didorong murahnya biaya tenaga kerja.
"Selain tenaga kerja di China lebih rendah, biaya pembangunan HSR lebih rendah karena dibangun dalam skala besar. China juga telah melakukan standardisasi desain berbagai elemen konstruksi, pengembangan kapasitas, dan penggunaan peralatan yang memungkinkan efisien," kata Gerard.
(hen/hen)










































