Seperti dikutip dari Laporan Bank Dunia tentang pembangunan kereta cepat di China, tarif kelas kedua HSR bervariasi mulai dari Rp 600/km untuk kereta berkecepatan 200-250 km/jam. Kereta berkecepatan 300-350 km/jam dipatok Rp 1.000/km.
Tarif kereta pun berbeda antara kereta ekspres yang hanya berhenti di stasiun besar dengan kereta non ekspres yang berhenti di stasiun kecil. Tarif tersebut 3-4 kali lebih tinggi dari kereta konvensional, tapi lebih rendah atau sebanding dengan tiket pesawat tarif bawah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jerman mematok harga lebih tinggi yaitu Rp 4.500/km, sedangkan di Jepang tarifnya Rp 3.800 - 4.100/km. Meski murah, kereta di China tetap memberikan kualitas, layanan dan kenyamanan.
Saat ini masih ada 12.000 km proyek HSR sedang dalam tahap konstruksi. China menapaki langkah pasti untuk menghubungkan antar wilayahnya dengan kereta berkecepatan lebih dari 250 km/jam.
Riwayat kereta cepat China bukan tanpa cacat, sebab pernah terjadi sebuah kecelakaan besar kereta cepat di tahun 2011 yang menyebabkan sekitar 40 penumpang tewas. Di Spanyol pada 2013 kecelakaan kereta cepat menyebabkan penumpang tewas sedangkan Jepang masih bersih dari catatan kecelakaan kereta cepat.
Laporan Bank Dunia tentang pembangunan jalur kereta cepat di China menggambarkan kesibukan fasilitas publik ini. Sebuah rangkaian kereta cepat terdiri dari 8 atau 16 gerbong.
Data jadwal kereta dari perusahaan kereta api China Railway Coperation (CRC) tahun 2014, sebanyak 70-100 pasang kereta HSR dioperasikan setiap hari di rute sibuk. Sebanyak 8 pasang kereta dioperasikan pada jam sibuk.
(hen/hen)










































