Dikutip dari situs resmi High Speed Rail Corporation of India Ltd (HSRC), sedikitnya ada 4 rute kereta cepat yang akan dibangun oleh negara dengan penduduk terpadat kedua di dunia. Kecepatan kereta yang akan dibangun mencakup 160-200 km/jam hingga 350 km/jam.
Rute yang akan dibangun adalah Delhi-Chandigarh-Amritsar, Delhi-Chennai, Mumbai-Ahmedabad, dan Chennai-Bangaluru-Mysore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jepang telah menghitung biaya realisasi proyek yaitu senilai US $ 15,6 miliar dan menawarkan diri untuk mendanainya. Rencana proyek konstruksi akan memakan waktu selama 7 tahun dari 2017 hingga 2023.
Jika berhasil terealisasi, jalur tersebut akan memangkas waktu perjalanan dari Mumbai-Ahmedabad semula 7 jam 30 menit menjadi hanya 2 jam melintasi 12 stasiun. Jika dimulai tahun ini, jalur tersebut akan dapat beroperasi secara komersil mulai 2024.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyatakan siap mewujudkan visi Perdana Menteri Modi untuk memperkenalkan jalur kereta cepat shinkansen Mumbai-Ahmedabad.
Sementara itu untuk rute Delhi-Chennai, pihak India menggandeng China. Kereta cepat Delhi-Chennai sedang dalam tahap studi kelayakan yang digarap oleh China Railway Siyuan Survey and Design Group.
Sedangkan untuk rute Delhi-Chandigarh-Amritsar masih tahap pra studi kelayakan. Untuk rute kereta cepat Chennai-Bangaluru-Mysore masih tahap studi kelayakan yang menggandeng China Railway Eryuan Engineering Group yang bermitra dengan High Speed Rail Corporation of India Ltd
"Pada 2020, sedikitnya ada empat koridor sepanjang 2.000 km akan dibangun dan 8 koridor lainnya masih tahap perencanaan," jelas situs resmi High Speed Rail Corporation of India Ltd (HSRC), dikutip Selasa (21/7/2015)
Dalama keterangannya, pihak HSRC selaku badan usaha pemerintah India menyebutkan India membutuhkan infrastruktur kereta cepat. Hal ini sejalan dengan perkembangan negara-negara lain seperti China, Taiwan, AS yang juga akan membangun kereta cepat.
"India unik dan sendirian di antara negara-negara besar dunia, namun tidak memiliki kereta cepat dengan kecepatan lebih dari 250 km/jam," jelas HSRC.
Konsultan independen akan ditunjuk untuk menyeleksi, apakah investor Jepang atau China yang layak membangun kereta cepat Jakarta-Bandung senilai Rp 67 triliun.
(hen/hen)











































