Wilson Hasan, pemilik perusahaan penggemukan sapi, PT Tunjung Unggul Mandiri (TUM) mengatakan, situasi pembatasan impor sapi tersebut tidak tepat. Karena usai lebaran, harga daging sapi masih tinggi, yaitu Rp 120.000-140.000/kg.
"Selama kuartal III nanti tidak mungkin turun, justru harga daging sapi akan terus bertahan tinggi bisa di kisaran Rp 140.000-150.000/kg akibat terbatasnya stok. Saat ini saja sudah naik," jelas Wilson kepada detikFinance, Kamis (23/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara ongkos angkut sapi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah Rp 500.000 per ekor, dengan berat rata-rata 100 kg per ekor. Bila dihitung, lebih murah ongkos angkut sapi dari Australia.
Β
"Umumnya perusahaan importir masukkan 500-1.000 ekor. Setiap bulan ke Indonesia, masuk minimal 4.000 ekor sapi bakalan. Jumlah itu dibagi ke tiga hingga empat perusahaan. Kapasitas kontainer dari Australia itu 4.000 ekor," ungkap Wilson.
Perusahaan yang dia miliki setiap bulan mengimpor 1 kontainer berisi 4.000 ekor sapi. "Kami sangat keberatan dengan pembatasan impor sapi bakalan yang terbilang mendadak ini. Stok di kandang kami, bulan Oktober akan habis atau 3 bulan lagi," jelasnya.
Wilson mengungkapkan, setiap kuartal (3 bulan), TUM membutuhkan sapi impor sebanyak 30.000 ekor. Sementara untuk kuartal III-2015 ini, dia hanya diberikan jatah impor 6.580 ekor sapi. Wilson mengatakan, TUM akan mengurangi pasokan sapi untuk mengelola sehingga stok tidak habis dalam 3 bulan.
Kondisi ini, ungkap Wilson, akan membuat harga di pasar naik. Karena seluruh feedlotter hanya bisa mengeluarkan pasokan 2.000 ekor, dari kebutuhan 9.000-10.000 ekor yang biasa dipasok dalam 3 bulan.
(dnl/ang)











































