Wilson Hasan, pemilik perusahaan penggemukan sapi, PT Tunjung Unggul Mandiri (TUM) mengatakan, bila pemerintah tetap mempertahankan kuota impor sapi 50.000 ekor di kuartal III-2015, harga bisa naik.
Saat ini saja, ujar Wilson, harga daging sapi masih tinggi, yaitu Rp 120.000-140.000/kg.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini pernah terjadi saat 2012 lalu. Saat pemerintah menahan kuota impor dan harga daging melambung, dan kemudian sapi betina menjadi korban.
Β
"Kebutuhan sapi bakalan impor tertinggi yaitu Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Kondisinya saat ini stok lokal tidak cukup. Kalau stok lokal cukup, kenapa harga daging sapi sejak lebaran nggak bisa turun?" Tanya Wilson.
Melihat kondisi ini, Wilson mengatakan, risiko harga daging sapi naik cukup besar. Bila suplai atau pasokan ditahan, maka harga akan naik, terutama saat lebaran haji pada September nanti.
"Kami berharap kepada pemerintah ada tambahan kuota segera. Sebab perkapalan pasokan sapi dari Australia, masih bisa dialihkan sebelum 27 Juli. Kami dapat info, setelah tanggal itu, mereka tidak bisa ambil risiko. Lalu akan dialihkan kapal beserta sapinya ke negara lain," ucap Wilson.
"Meskipun nantinya apabila pemerintah keluarkan izin impor tambahan awal Agustus, itu pun sudah terlambat karena sudah tidak bisa dapat kapal dan stok sapi," katanya.
(dnl/ang)











































