Kenapa Pengusaha Penggemukan Pilih Sapi Australia Ketimbang NTB?

Kenapa Pengusaha Penggemukan Pilih Sapi Australia Ketimbang NTB?

Lani Pujiastuti - detikFinance
Kamis, 23 Jul 2015 15:50 WIB
Kenapa Pengusaha Penggemukan Pilih Sapi Australia Ketimbang NTB?
Jakarta - Kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) membatasi impor sapi menjadi 50.000 ekor di kuartal III-2015, diprotes oleh pengusaha penggemukan sapi (feedlotter). Kenapa pengusaha ini lebih memilih sapi Australia ketimbang Nusa Tenggara Barat (NTB)?

Wilson Hasan, pemilik perusahaan penggemukan sapi, PT Tunjung Unggul Mandiri (TUM) mengaku siap untuk mengambil sapi lokal. Namun kendalanya, pasokan sapi lokal tidak berkesinambungan.

"Sapi (lokal) tidak seragam, dan tingginya risiko selama pengangkutan dari sentra seperti NTT dan NTB ke farm kami. Biaya angkut pun lebih mahal, yaitu Rp 44.000-45.000/kg. Fasilitas kapal ternak belum ada," jelas Wilson kepada detikFinance, Kamis (23/7/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

TUM pernah membeli sapi lokal. Wilson bercerita, waktu itu untuk mencari 1.000 ekor sapi saja hingga setengah mati

"Kami hubungi semua kontak yang kami punya. Kami temui kendala dari pedagang lokal, tidak ada kepastian kontinuitas, gizi sapinya tidak cukup, dan perawatan kurang baik," jelasnya.

Saat 2012 lalu, angka kematian sapi lokal yang diambil TUM mencapai 5-10%. Ini karena beragam penyakit yang diderita, mulai dari sakit cacing, jantung, hingga paru-patu.

"Masih sulit bangun industri sapi yang komersial di Indonesia. Sapi masih dipelihara sebagai sambilan. Baru dijual ketika butuh uang. Jumlah rumah tangga peternak sangat banyak dan pelihara sapi dalam jumlah kecil-kecil," kata Wilson.

Sementara untuk sapi impor dari Australia, Wilson mengungkapkan, bobot rata-rata yang datang adalah 300 kg. Setelah digemukkan selama 3 bulan, beratnya akan mencapai 450 kg.

"Kalau NTB bisa keluarkan 70.000 ekor tahun ini dibawa ke Jakarta seluruhnya, itu pun belum cukup. Hitungan Apfindo (Asosiasi Pengusaha Feedlotter Indonesia), kebutuhan sapi lokal 60.000 ekor sapi bakalan/bulan. Jumlah NTB artinya tidak sampai satu bulan. Produksi di sana pun pasarnya ke Kalimantan, karena harga lebih menarik dan permintaan tinggi," paparnya.

Australia kondisinya saat ini sudah swasembada sapi. Industri peternakannya juga sudah komersial dan profesional. Negara ini sudah bisa menghitung prediksi produksi sapi dan memiliki pasar ekspor yang banyak.

"Kami dukung pemerintah capai swasembada daging sapi termasuk sapi indukan, sapi bakalan, hingga daging. Kami siap dilibatkan dalam diskusi. Kami pun berminat kalau ada langkah penyelamatan sapi betina produktif bekerja sama dengan pemerintah," jelas Wilson.

"Saat ini, baru diumumkan pembatasan, reaksi dari eksportir Australia, sudah ada pengalihan negara tujuan ke Vietnam, Thailand, dan sebagian wilayah selatan Australia untuk digemukkan," katanya.

Sebetulnya, lanjut Wilson, produksi sapi Australia sedang turun. Jadi stok yang sudah disiapkan untuk Indonesia bakal dialihkan ke negara lain.

(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads