Harga emas dunia sudah anjlok lebih dari 40% sejak mencapai titik tertingginya pada 2011 lalu. Bahkan kini harga emas menuju ke US$ 1.000/troy ounce.
Dalam sepuluh hari berturut-turut, harga emas dunia sudah mengalami koreksi. Ini merupakan koreksi terpanjangnya sejak September 1996.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Dolar AS Perkasa
|
|
"Emas sudah terkena imbas dari penguatan dolar AS dalam dua pekan terakhir, seperti terhantam badai," kata Bob Alderman, Kepala Manajemen Aset dari Gold Bullion International.
Dalam beberapa pekan ke depan, dolar AS diperkirakan masih akan menguat, terutama gara-gara isu naiknya suku bunga The Federal Reserve.
2. China, Iran, dan Yunani
|
|
Harga emas sempat anjlok US$ 40 per ounce, setelah China mengumumkan jumlah cadangan emasnya yang lebih sedikit ketimbang sebelumnya.
Ketegangan antara Eropa dan Timur Tengah juga memuncak setelah kesepakatan nuklir Irak. Harga minyak dunia yang turun menular ke harga emas.
Sementara Yunani, setelah dapat dana bantuan berarti batal ditendang dari Eropa. Hal ini kembali mendorong dolar AS menguat, membuat emas bukan pilihan investasi terbaik.
3. Inflasi Rendah
|
|
"Selama lebih dari 5.000 tahun emas selalu menjadi bantalan ketika terjadi inflasi. Sekarang ini susah mengharapkan inflasi tinggi," kata George Gero, Direktur RBC Capital Markets.
Akankah Harga Emas Jatuh ke US$ 1.000?
|
|
Terakhir kali emas diperdagangkan di bawah US$ 1.000 itu pada tahun 2009 tak lama setelah krisis finansial global terjadi. Tapi tak semua orang pesimistis, ada beberapa analis yang percaya harga emas bisa rebound.
Halaman 2 dari 5











































