"Thailand telah berubah dari negeri penuh senyum, menjadi negeri yang murung. Namun kemurungan tersebut bisa berubah menjadi keceriaan kapan saja," kata Ekonom ANZ, seperti dilansir dari CNBC, Senin (27/7/2015).
Menurut Departemen Pencegahan Bencana Thailand, cuaca kering dan panas melanda sekitar 67 provinsi di Thailand. Namun dengan lebih dari 40% populasi masyarakat bergantung kepada sektor agrikultur, kekeringan menjadi masalah bagi ekonomi, dan telah membuat sektor manufaktur melambat, ekspor turun, dan utang luar negeri meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Thailand merupakan eksportir beras terbesar di dunia. Asosiasi Eksportir Beras Thailand, kekeringan yang terjadi berdampak kepada 80% lahan padi, dan diperkirakan bakal membuat produksi turun 15-20% di tahun ini.
"Tak hanya saat paceklik produksi turun, bahkan musim tanam juga bakal mundur ke Agustus, dari normalnya Juni-Juli ini," kata Analis Credit Suisse, Santitarn Sathirathai.
Sektor agrikultur menyumbangkan 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand. Kekeringan bakal berimbas pada PDB, bahkan kurangnya pasokan air bisa berdampak kepada area industri. Bila ini terjadi, maka produksi industri menurun, dan bakal berdampak pada pengurangan karyawan.
"Kami yakin dampak dari kekeringan akan menurunkan produksi pertanian. Ada penurunan produksi padi 30% sepanjang Januari-Mei. Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya tenaga kerja pertanian sebanyak 700.000 di Juni," kata Ekonom Citi, Jun Trinidad.
Musim yang tidak bersahabat ini juga menekan pendapatan di sektor agrikultur. Imbasnya, pengeluaran masyarakat akan terhantam.
"Rumah tangga pedesaan terhantam dari badan di agrikultur ini, keuangan mereka ikut mengering, dan utang meningkat," kata Santitarn, yang juga menambahkan soal turunnya harga beras internasional.
"Meski pemerintah Thailand menyediakan US$ 1,8 miliar pinjaman lunak (bunga rendah) untuk menolong petani, kami memperkirakan dampak negatif telah terjadi," imbuhnya.
Saat ini, masyarakat lebih berhemat mengeluarkan uangnya. Kepercayaan konsumen turun dalam 6 bulan berturut-turut hingga Juli ini.
Belum sampai di situ, turunnya produksi beras juga bisa memicu kenaikan harga pangan di Thailand. Imbasnya, inflasi akan muncul.
Menghadapi lesunya ekonomi, bank sentral Thailand, yaitu Bank of Thailand diperkirakan bakal menurunkan bunga acuannya ke tingkat terendah sepanjang sejarah, yakni 1,25%, dari saat ini 1,5%.
(dnl/hen)











































