Ada 'Efek Maradona', Ekonomi RI Hanya Tumbuh 5% Tahun Ini

Ada 'Efek Maradona', Ekonomi RI Hanya Tumbuh 5% Tahun Ini

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Selasa, 28 Jul 2015 11:27 WIB
Ada Efek Maradona, Ekonomi RI Hanya Tumbuh 5% Tahun Ini
Jakarta - Perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan mengalami perlambatan hingga akhir tahun ini. Meskipun masih ada rasa optimisme akan ada perbaikan, tapi kondisi perekonomian global yang juga melambat berkontribusi terhadap laju ekonomi Indonesia ke depan.

Terlebih, bergulirnya isu kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) praktis membuat perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia kelimpungan.

Meskipun baru sebatas isu, ketidakpastian ini sangat berpengaruh terhadap kinerja perekonomian Indonesia. Hal ini membuat perekonomian Indonesia melambat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam beberapa tahun terakhir, Fed belum dinaikkan tapi isu sudah dimainkan, jadi ini adalah 'efek maradona' tanpa melakukan apa-apa tapi mempengaruhi perekonomian. Gerak saham 2013 sampai sekarang naik-turun. Kita lebih fluktuasi dibanding Malaysia, Korea dan sebagainya," kata Direktur Penelitian CORE Indonesia Mohammad Faisal dalam seminar berjudul "CORE 2015 Mid-Year Review: Managing Economic Slowdown", di Graha Sucofindo, Jakarta, Selasa (28/7/2015).

Faisal menyebutkan, ada beberapa isu ekonomi global yang mempengaruhi perekonomian Indonesia yaitu spekulasi kenaikan federal rate bahwa tahun ini akan dinaikkan suku bunga tapi tidak dijelaskan pastinya.

Selain itu, sejak 2011 sampai sekarang tingkat pengangguran AS terus menurun. Kemudian penurunan harga komoditas menekan ekspor Indonesia.

"Sebelum akhir tahun akan dinaikkan tapi tidak pernah pasti, naik turunnya fed rate ini akan berdampak ke ekonomi

Di sisi lain, ada isu krisis di Yunani, hasil referendum sudah kelihatan. Namun, dampaknya ke Indonesia tidak besar, dampak ke Uni Eropa sendiri sangat kecil, isu memang besar tapi dampak ke Indonesia sangat kecil.

"Tapi investor secara psikologis merasakan emerging market agak rentan maka merasa ini akan mempengaruhi," katanya.

Terkait hal itu, Faisal menyebutkan, dari berbagai forecast lembaga dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan tumbuh melambat, angkanya bervariasi, rata-rata hanya di angka 5%, bahkan JP Morgan Chase memberikan proyeksi pesimis terhadap ekonomi Indonesia yang hanya bisa tumbuh 4,4% tahun ini, HSBC Economics memberikan proyeksi paling optimis terhadap Indonesia sebesar 5,5%.

"Kuartal pertama slowdown, kuartal kedua kita perkirakan 4,9-5% masih lebih baik, kuartal ketiga dan keempat lebih baik lagi, sejauhmana tergantung dari sejauh mana respons pemerintah," katanya.

Perlambatan tersebut, kata Faisal, dikontribusi menurunnya konsumsi masyarakat dan menurunnya daya beli.

"Kita lihat konsumsi menurun, investasi diharapkan membaik, PMA dan PMDN walaupun membaik tapi melambat jadi harapannya di belanja pemerintah. Penjualan motor dan mobil turun. Impor barang, bahan baku dan modal cenderung turun, penjualan listrik PLN turun," sebut dia.

(drk/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads