Ekonomi Indonesia Tidak Begitu Buruk, Ada 'Bantalan' yang Kuat

Ekonomi Indonesia Tidak Begitu Buruk, Ada 'Bantalan' yang Kuat

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Selasa, 28 Jul 2015 12:57 WIB
Ekonomi Indonesia Tidak Begitu Buruk, Ada Bantalan yang Kuat
Jakarta - Perekonomian Indonesia tengah diuji ketahanannya. Di kuartal pertama tahun ini, pertumbuhannya melambat hanya 4,7%, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang masih tumbuh 5,2%.

Perlambatan ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun jika tidak ada usaha agresif yang dilakukan pemerintah.

Berbagai lembaga dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang tahun ini hanya di kisaran 5%. Namun, Ekonom dan Direktur Eksekutif CORE Indonesia Hendri Saparini masih cukup optimis melihat perekonomian Indonesia ke depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia memperkirakan, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 5,3% sepanjang tahun ini.

"Ekonomi kita tidak sebegitu buruknya karena kita punya bantalan yang kuat, konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah yang masih baik," jelas dia dalam seminar berjudul "CORE 2015 Mid-Year Review: Managing Economic Slowdown", di Graha Sucofindo, Jakarta, Selasa (28/7/2015).

Hendri menyebutkan, perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh lebih baik tahun ini, lebih optimis dari berbagai perkiraan para ekonom.

Menurutnya, tak ada cara lain untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik yaitu dengan menggenjot belanja pemerintah.

"Di mana-mana yang diharapkan bagaimana belanja pemerintah ini jadi stimulus. Di tahun banyak yang memperkirakan hanya tumbuh 5,2%. Menurut kami 5,2% itu moderat, kita masih punya peluang untuk bisa mendorong ekonomi bergerak lebih tinggi, dengan kerja tim yang jauh lebih bagus dan eksekusi lebih baik rasanya tidak berlebihan kalau 5,3%," ucapnya.

Hendri menjelaskan, saat ini sebagian besar PDB Indonesia disumbang dari konsumsi swasta dan pemerintah mencapai 60-62%, jadi ada peluang untuk tumbuh lebih besar.

"Semester kedua sangat bergantung pada konsumsi pemerintah karena ekspor komoditas sudah tidak bisa diharapkan. Yang juga perlu dijaga adalah investasi. Paling tidak 5,3% bisa dicapai apabila kuartal tiga dan empat bisa direspons dengan baik," tandasnya.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads