"Kuartal kedua bisa 4,8-4,9%, tapi kuartal ketiga dan keempat bisa sampai 5,2%," kata Kepala Pusat Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Lucky Al Firman, dalam seminar berjudul 'CORE 2015 Mid-Year Review: Managing Economic Slowdown', di Graha Sucofindo, Jakarta, Selasa (28/7/2015).
Lucky menjelaskan, meski berbagai proyeksi lembaga dunia memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh di kisaran 5% tahun ini, pemerintah masih lebih optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2% di tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Lucky, indikator makro ekonomi Indonesia masih cukup positif. Neraca perdagangan lima bulan terakhir surplus. Ekspor lebih baik daripada impor. Sayangnya, ini terjadi gara-gara ekspor-impor turun dua-duanya, tapi penurunan impor lebih besar.
"Inflasi tahun lalu 8,3%, sekarang per Juni inflasi year to date masih di bawah 1% (0,96%), seluruh tahun masih di kisaran 4%. Ini inflasi yang diharapkan," ujar dia.
Selain itu, perubahan APBN-P cukup mendasar. Ada penghematan Rp 211 triliun dari penghapusan subsidi BBM. Dana itu diharapkan bisa dialihkan untuk menggenjot infrastruktur, sehingga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
"Tapi rasio pajak kita masih di bawah 12%. WP (wajib pajak) potensial kurang lebih 40 juta. WP terdaftar hanya 28 juta. Yang menyerahkan SPT akhir tahun 10 juta. Kepatuhan pajak kita rendah," ucap dia.
Meski begitu, Lucky menyebutkan, pemerintah masih optimistis untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di angka 7% dalam 5 tahun ke depan.
"Kita ingin tumbuh 7% dalam 5 tahun ke depan," kata Lucky.
(drk/dnl)











































