Kebijakan ini membuat Kementerian Pertanian (Kementan) punya tugas cukup berat, yakni dapat mengangkut sapi lokal seperi di Nusa Tenggara Timur (NTT) atau Nusa Tenggara Timur (NTB) ke Jakarta yang tingkat konsumsi daging sapinya tinggi, sebagai ganti pasokan sapi impor. Tapi masalahnya, Indonesia belum punya kapal khusus ternak termasuk dermaga kapal ternak.
"Sampai sekarang kita belum punya kapal khusus pengangkut ternak termasuk dermaga ternak. Kita butuh kapal seperti Australia yang bisa angkut 2.000-6.000 ekor sekali jalan. Supaya biayanya tidak terlalu tinggi," ungkap Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Muladno ketika dihubungi detikFinance, Jumat (31/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami dari Kementerian Pertanian, tugasnya naikkan populasi supaya nantinya bisa mandiri. Tugas saya melakukan populasi berencana. Tapi bedanya, bukan membatasi tapi justru supaya beranak sebanyak-banyaknya," jelas Muladno.
Menurutnya, kendala selama ini Indonesia belum punya infrastruktur yang baik untuk kapal ternak. "Sebetulnya nggak sulit, cuma nggak ada niat. Sekarang ada niat, saatnya care dan harus diwujudkan," terangnya.
Muladno menjelaskan, dengan adanya kapal ternak bisa mengatasi tataniaga ternak. Penjualan secara tradisional dalam jumlah kecil-kecil dan tersebar bisa disatukan.
"Kita salah strategi sejak dulu. Saya tiadakan program kirim sapi antar pulau. Misalnya program kirim sapi NTT ke Kalimantan, sapi hanya pindah-pindah bahkan mati, bukannya bertambah," tuturnya.
Muladno mengaku belum pernah melihat langsung kapal ternak Australia dan ingin melihatnya dalam waktu dekat. "Belum pernah lihat kapal ternak Australia, pinginnya lihat segera," pungkasnya.
Seperti diketahui, distribusi sapi dari daerah penghasil seperti NTT atau NTB selama ini dilakukan secara tradisional. Dari NTT sapi diangkut dengan kapal kayu lalu sampai di Surabaya, dari sana diangkut lagi menggunakan truk ke Jakarta. Jauhnya jarak tempuh membuat sapi kehilangan bobot tubuhnya, bahkan tak jarang mati dalam perjalanan, karena stres, kekurangan makanan dan minuman.
Sementara Australia memiliki kapal khusus sapi, kapal ini digunakan untuk ekspor sapi salah satunya ke Indonesia. Kapal tersebut mampu menangkut sapi dalam jumlah banyak, selama perjalanan sapi cukup pakan dan minum hingga tak jarang dalam perjalanan bobot sapi bertambah.
(rrd/rrd)











































