Hal tersebut berdasarkan Rapat Koordinasi yang dihadiri beberapa menteri dan BPS, di Kantor Kementerian Perekonomian. Rapat berlangsung sejak pukup 09.00 sampai 11.45 WIB.
"Tadi kami bahas dampak El Nino, salah satunya kekeringan di mana-mana. Perlu diantisipasi dampaknya terhadap produksi pertanian. Hasilnya nanti akan kami laporkan dulu ke Presiden," kata Menko Perekonomian Sofyan Djalil ditemui usai rapat koordinasi di Kantornya, di Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (31/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita antisipasi penurunan produksi beras akibat kekeringan. Belum ada opsi impor. Stok cukup, tidak sampai impor. Potensi penurunan produksi 250.000 ton beras," kata Andrinof ditempat yang sama.
Walau ada fenomena El Nino, Badan Pusat Statistik juga tidak akan merevisi Angka Ramalan (ARAM) produksi beras, bahkan BPS memprediksi produksi beras surplus sebanyak 5 juta ton lebih di 2015.
"ARAM tak akan direvisi. Karena ada peningkatan produksi baru dari tambahan lahan Januari-April. April-September ada penambahan lagi luas tanam padi. Tapi perlu diantisipasi Juli ke sini ada El Nino, nah itu yang kami belum buat skenario. Ternyata dampak El Nino tidak serta merta menurunkan produksi. Kalau yang sudah ditanam atau standing crop kita akan petakan mana yang bisa panen dan mana yang tidak," kata Deputi Statistik Badan Pusat Statistik, Adi Lumaksono.
(rrd/hen)











































