Ketua Komisi XI DPR-RI Fadel Muhammad mengatakan, pembebasan bea masuk atas produk ikan Indonesia merupakan buntut dari merosotnya bahan baku industri perikanan di AS.
“Karena kebutuhan juga. Di Amerika sekarang bahan baku menurun, stok sedikit. Tinggal di negeri kita yang paling besar ikannya,” kata Fadel ditemui di Kantor KKP, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Jumat (31/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sudah lama perjuangan kita, tapi baru berhasil sekarang pas Bu Susi. Saya bilang selamat buat Ibu Susi, karena berhasil membuat tarif jadi nol, itu luar biasa,” puji Fadel yang juga mantan menteri kelautan dan perikanan ini.
Fadel mengungkapkan, dalam jangka panjang, akan ada lonjakan ekspor ikan Indonesia sehingga akan mendorong stimulus peningkatan produksi sektor perikanan domestik.
“Peluang ekspor Indonesia akan semakin besar sehingga memacu peningkatan produksi sektor perikanan dalam negeri untuk diekspor,” katanya.
Menurut Fadel, Indonesia memiliki saingan yang berat dalam ekspor perikanan secara global. Tekanan terhadap produk perikanan Indonesia pun dinilai akan semakin berat seiring dengan pembebasan bea masuk tersebut.
Fadel yang juga pernah menjabat Menteri KKP ini menuturkan, banyak negara eksportir ikan iri dengan pembebasan bea masuk untuk produk ikan Indonesia.
“Seperti negara-negara Amerika Latin seperti Brasil dan Peru itu saingan kita yang paling berat. Bahkan, Jepang saja mengeluh juga sekarang karena mereka tidak dapat perlakuan yang sama seperti kita di AS,” pungkasnya.
(drk/hen)











































