"El Nino sudah kita perkirakan sejak jauh hari. Bisa lihat Mentan sejak awal sudah bagikan pompa, hingga perbaikan irigasi. Posisi terakhir lahan sawah gagal panen atau puso hanya 8.900 hektar. Sudah diselamatkan 90% dari lahan kekeringan tahun ini 111.000 hektar," ungkap Seketaris Jenderal Kementerian Pertanian, Hari Priyono ditemui usai mengikuti Rakor di kantor Kemenko, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (31/7/2015).
Hari menjelaskan, Kementerian Pertanian tetap terus antisipasi supaya puso tidak bertambah. "Kita terus antisipasi dengan pompanisasi dan buat embung. Mentan terus jalan ke daerah sudah bagikan 18.000 unit pompa air dan bangun beberapa embung. Kami siapkan dana alokasi khusus tahun ini mencapai Rp 2,8 triliun untuk bangun embung," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah endemis kekeringan dengan luasan sawah cukup besar diantaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Indonesia punya riwayat kekeringan parah 15 tahun lalu. Terkait hal ini, Hari mengungkapkan keadaan saat ini relatif lebih aman.
"Kita punya pengalaman terburuk 1997, lahan sawah terkena kekeringan mencapai luas 230.000 hektar. Itu saja sudah yang terburuk, sedangkan tahun ini sampai Juli hanya 111.000 dan belum tentu puso masih bisa diselamatkan, jadi saya pikir tidak akan terjadi seperti 1997," terangnya.
Jawa Barat merupakan provinsi dengan luas lahan sawah terdampak kekeringan paling luas. Hari mengharapkan pengaturan waduk Jatiluhur bisa dilakukan untuk menyelamatkan daerah lumbung produksi beras yang beresiko tinggi kekeringan seperti seperti Majalengka, Indramayu, dan Cirebon.
Produk pertanian lain seperti hortikultura pun disampaikan tidak terdampak signifikan akibat kekeringan. "Tanaman hortikultura seperti cabai, tomat bisa dilihat di pasar harga normal kan. Di Jatim bahkan melon panen raya," tutupnya.
(rrd/rrd)











































