Sebagian besar pemilik pesawat sewa hanya mengandalkan kontrak lama dari industri pertambangan dan perminyakan. Untuk bertahan di bisnis ini, ada pemilik pesawat jet yang mulai membidik bisnis persewaan 'taksi' udara.
"Kita harus jeli lihat peluang. Kita masuk ke bisnis logistik di Papua terus masuk ke taksi udara," kata Ketua Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Bidang Penerbangan Tidak Berjadwal, Denon Prawiraatmadja kepada detikFinance, Jumat (31/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Traffic di Jakarta masih sangat padat maka kita tawarkan rute ke Jakarta-Bandung, Jakarta-Cikampek dan Jakarta-Cilegon," ujarnya.
Rute Jakarta-Bandung, ungkap Denon, merupakan jalur favorit. Dalam 1 bulan, perusahaan yang dikelola oleh miliknya yakni PT Whitesky Aviation mampu menerbangi sekitar 10-20 jam terbang.
Bisnis taksi dengan menggunakan helikopter ditawarkan dengan sistem sewa selama 30 menit. Tarif sewa setiap 30 menit ialah Rp 30 juta. Harga ini berubah mengikuti pergerakan kurs dolar.
"Taksi udara, kita masuknya ke market korporasi. Kebutuhan transportasi yang tinggi ada ke Jakarta-Bandung," ujarnya.
Denon mengalogikan bisnis taksi udara akan terus tumbuh. Indonesia yang merupakan negara kepulauan, dinilai sangat ideal disambungkan oleh taksi udara seperti helikopter. Hingga saat ini, setidaknya ada 200 helikopter yang beroperasi di Indonesia.
"Di Brasil ada 2.000 heli yang take off landing setiap hari. Kita ada 200 heli (komersial) di seluruh Indonesia. Tapi penduduk lebih banyak dan kita negara kepulauan sedangkan brasil itu main land (dataran)," tuturnya.
(feb/rrd)











































