Pengusaha Turki Incar Industri Baja dan 'Harta Karun' Energi RI

Pengusaha Turki Incar Industri Baja dan 'Harta Karun' Energi RI

Muhammad Idris - detikFinance
Sabtu, 01 Agu 2015 16:14 WIB
Pengusaha Turki Incar Industri Baja dan Harta Karun Energi RI
Foto: Pertemuan Kadin dan Pengusaha Turki (Agung PambudhydetikFinance)
Jakarta - Di tengah melambatnya perekonomian, Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi favorit sejumlah negara, salah satunya Turki. Pengusaha Turki berminat berinvestasi di sejumlah sektor. Mulai dari baja, makanan, hingga panas bumi yang jadi harta karun energi Indonesia yang belum tergarap.

"Kami fasilitasi. Kami bantu kalau mereka mau investasi. Secara umum, investor (Turki) tertarik pada industri baja menengah dan industri makanan. Kedua sektor ini juga sangat besar minatnya," ujar Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto, ditemui di Forum Bisnis Indonesia-Turki, di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Sabtu (1/7/2015).

Suryo mengatakan, sektor industri di Turki relatif selangkah lebih maju dibanding Indonesia. "Yang kami ingin banyak tingkatkan adalah dalam bidang industri, terutama dalam infrastruktur. Karena Turki cukup maju dalam penguasaan industrinya," ungkap Suryo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemajuan industri Turki, sambungnya, membuat sebagian besar ekspor negara tersebut merupakan barang jadi. โ€œEkspor mereka juga dari hasil industri jadi. Barangkali bisa kami kurangi ketergantungan kita pada ekspor komoditas dengan kerjasama ini. Jadi dengan kedatangan 100 lebih pengusaha Turki ini harus kita manfaatkan.โ€ jelas Suryo.

Menurut Suryo, kendala investasi pengusaha Turki di Indonesia adalah pembebasan lahan. "Kendala serius tidak ada. Hanya mungkin kita harus perbaiki adalah hal-hal perizinan dalam masalah pembebasan lahan. Itu biasalah kendala-kendala yang dihadapi investor (negara) lain," tambahnya.

Diungkapkan Suryo, selain industri baja dan makanan, para pengusaha Turki juga sudah menyatakan minatnya berinvestasi di sektor kelistrikan, khususnya yang menggunakan energi panas bumi (geothermal). "Yang jelasnya mereka mau masuk di pembangkit listrik geothermal. Geothermal itu cukup tinggi biayanya, 1 MW saja bisa US$ 3-4 juta," kata Suryo.

"Sebagai tahap awal ketertarikan di bidang listrik geothermal, investor Turki melakukan beberapa tahapan studi, jadi belum ada komitmen. Tapi mereka sangat serius dalam geothermal. Itu sesuatu yang sangat kita inginkan ya, minat besar Turki rasanya tidak sulit,โ€ pungkas Suryo.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads