Pertumbuhan Ekonomi Tak Akan Terpengaruh Kenaikan Harga BBM

Pertumbuhan Ekonomi Tak Akan Terpengaruh Kenaikan Harga BBM

- detikFinance
Rabu, 23 Feb 2005 18:19 WIB
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tidak akan terpengaruh secara significan setelah pemerintah menaikkan harga BBM. Alasannya, kegiatan ekonomi tidak akan berkurang meskipun ada kenaikan harga BBM.Demikian dikatakan Pengamat ekonomi, Anton H. Gunawan, disela-sela Global Economic Outlook 2005, di Hotel Mulia, Jl. Asia Afrika, Rabu (23/02/2005). Anton menjelaskan, kondisi perekonomian Indonesia tahun 2005 akan lebih baik. "Pertumbuhan akan mencapai 5,3 persen dan diharapkan kearah 5,9 persen. Inflasi 2005 akan lebih tinggi sedikit tapi untuk 2006 akan terjadi penurunan dengan pola yang tidak menurun langsung," jabar Anton.Menurutnya, kenaikan harga BBM yang diikuti oleh kenaikan harga makanan sebagai hal yang wajar. "Kenaikan harga BBM yang berdampak terhadap kenaikan harga 5-10 persen pada industri makanan itu wajar karena ada komponen BBM dalam transportasinya, sedangkan pada inflasi jelas akan naik," kata Anton.Anton mengakui, pada bulan-bulan saat terjadi kenaikan BBM, akan diikuti oleh kenaikan inflasi. Menurut Anton, inflasi pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi 1 - 1,2 persen dibandingkan tahun lalu."Biasanya bulan-bulan setelah pengumuman kenaikan akan terjadi kenaikan inflasi bahkan bulan sebelumnya seperti Februari kemungkinan inflasi bisa mencapai 8 persen (year on year) namun di bulan Juni dan selanjutnya akan stabil kembali," tambah AntonSementara terkait pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) pada tahun ini Anton memperkirakan tidak akan membawa dampak yang significan pada inflasi tahun ini. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan pelaksanaan pemilu pada tahun lalu, dimana inflasi cukup terpengaruh. Anton memprediksi sampai akhir tahun inflasi bisa turun menjadi 7,5 persen. Mengenai rencana pemerintah yang akan menaikan harga BBM rata-rata 29 persen, Anton mengaku tidak bisa menilai apakah angka tersebut tepat atau tidak. Yang jelas, Anton mengaku subsidi harus dicabut. "Dana kompensasi harus dijalankan dengan baik. JPS (jaring Pengaman Sosial) yang dilakukan tahun lalu dianggap cukup berhasil, tampaknya akan dilakukan lagi dengan perbaikan pola,"ujar Anton.Ia yakin bahwa demonstrasi menentang kenaikan BBM pasti terjadi dan ia menghimbau golongan menengah ke atas yang secara umum menerima subsidi lebih besar harus bisa menerima kenaikan ini.Khusus untuk nilai tukar Rupiah, Anton memprediksi pada tahun 2005 ini akan menguat hingga ke level Rp 8.000-9.000 per Dolar AS. "Untungnya likuiditas cukup banyak di market sehingga kurs rupiah akan terjadi penguatan pada akhir tahun antara Rp 8000 - Rp 9000 dengan asumsi akan terjadi capital inflow dan infrastruktur proyek berjalan," demikian Anton Gunawan. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads