Tembaga memiliki porsi 50% dari total ekspor Peru. Harga komoditas sumber daya alam naik karena tingginya permintaan. Ini bahkan membuat pasar saham Peru naik 3 kali lipat dari 2008 hingga 2010.
Namun saat ini konsumsi China turun, karena ekonominya melambat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak negara berpikir kenikmatan tingginya harga ini akan berlangsung selamanya. Tapi ternyata tidak," kata Analis, Win Thin dilansir dari CNN, Selasa (4/8/2015).
Tahun ini, harga minyak, perak, tembaga, bijih besi, alumunium, platinum, palladium, timah, dan nikel terus turun. Bahkan harga emas turun di bawah US$ 1.100 per ounce, atau ke tingkat terendahnya dalam 5 tahun.
Tentu saja, tak hanya Peru yang terdampak dari jatuhnya harga logam. Ada sejumlah negara yang juga terkena.
Siapa saja? Berikut daftarnya.
1. Chili
|
|
Sekitar 1/4 ekspor tembaga Chili adalah ke China. Chili juga merupakan rumah dari Codelco, perusahaan tembaga terbesar dunia.
2. Afrika Selatan
|
|
Afrika Selatan merupakan eksportir chromium, platinum dan manganese, serta bijih besi, emas, dan berlian terbesar di dunia.
3. Australia
|
|
Ekspor Australia, 25% dikuasai oleh bijih besi dan emas. Negeri kanguru ini menderita karena murahnya harga batu bara, minyak, dan gas.
4. Brasil
|
|
Turunnya harga tambang mentah membuat mata uang Brasil turun ke level terendah dalam 12 tahun.
5. Zambia
|
|
6. Republik Kongo
|
|
Halaman 2 dari 7










































