Dana Pinjaman Kehutanan Rp 2,1 T Tak Banyak Cair, Ini Penyebabnya

Dana Pinjaman Kehutanan Rp 2,1 T Tak Banyak Cair, Ini Penyebabnya

Lani Pujiastuti - detikFinance
Selasa, 04 Agu 2015 16:15 WIB
Dana Pinjaman Kehutanan Rp 2,1 T Tak Banyak Cair, Ini Penyebabnya
Jakarta - Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup sejak 2007 punya alokasi dana pembiayaan sektor kehutanan mencapai Rp 2,1 triliun. Dana bergulir pinjaman untuk IKM Furnitur dan Kelompok Hutan Rakyat ini sayangnya tak banyak yang tersalurkan ke pelaku usaha.

Target penyaluran dana badan layanan umum (BLU) setiap tahun tersalur Rp 400 miliar. Namun setiap tahunnya, akad kreditnya bahkan tidak sampai Rp 150 miliar.

"Tahun 2014 akad kredit Rp 150 miliar namun dana yang tersalur baru Rp 80 miliar. Tahun-tahun sebelumnya sejak dimulai 2007, akad kredit tidak mencapai Rp 150 miliar," jelas Kepala Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan (P3H) Kementerian Kehutanan Kuntoro Wisnu di acara Business Investment Forum IKM Furnitur & Kelompok Hutan Rakyat di Menggala Wanabakti Kementerian Kehutanan, Selasa (2/8/2015)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab rendahnya dana yang tersalur, Kuntoro menjelaskan ada beberapa faktor seperti keterbatasan Kementerian Kehutanan melayani hingga pelaku usaha kehutanan di daerah.

"Para pengusaha ini kan letaknya di daerah-daerah. Sedangkan BLU hanya ada di pusat. Kami terbatas tidak bisa ke daerah-daerah. Makanya sekarang punya inisiatif gandeng lembaga perantara. Masih kita proses lembaganya, bisa bank lokal hingga koperasi kredit," paparnya.

Selain itu, Kementerian Kehutanan tidak ingin menyalurkan kredit yang berpotensi macet. "Kami ingin Pelakunya tepat, lokasinya tepat, tanah milik sendiri. Kami tidak ingin kredit disalurkan dan pemanfaatan ngga maksimal ujung-ujungnya macet," terang Kuntoro.

Salah seorang peserta, Ilham Gilang, pemilik UKM furnitur asal Jepara mengatakan belum dapat mengakses dana tersebut. "Saya sampai sekarang belum bisa mengakses pinjaman dana bergulir ini. Nggak tahu kenapa, penjelasannya hanya karena belum bisa disalurkan ke hilir yang tidak melakukan reboisasi. Jadi dana itu yang baru nerima kelompok hutan rakyat yang nanam pohon," terang Ilham.

Padahal menurut ilham, para pelaku usaha furnitur justru dapat mendorong produksi kayu. Sebab usaha hilir kayu yaitu furnitur makin banyak mendapat permintaan ekspor, seperti dirinya yang mengaku kontrak ekspor produknya meningkat.

"Sebetulnya permintaan produk kayu seperti jati itu banyak dan terus meningkat. Ini kan bisa mendorong hulu. Tapi belum dilihat dan difasilitasi pembiayaan oleh pemerintah," ujarnya.

Ilham mengaku selama ini mendapat modal dari pinjaman kredit perbankan. Ia sedang menghadapi kesulitan modal kerja untuk memenuhi produksi kontrak pengiriman 2016.

"Tahun depan saya dapat 16 kontrak pengiriman ke Amerika dan Prancis. Butuh modal paling tidak Rp 16 miliar. Tapi masih kesulitan cari yang jangka waktu lama dan bunga rendah. Ini kan dana pemerintah sebetulnya ada, kenapa sulit diakses," keluhnya.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads