"Investasi di Indonesia yang sapinya sudah ada di lahan saja, sulit datangkan investor. Sebab dilihat tidak menguntungkan. Lebih menguntungkan kalo dalam skala ribuan hingga puluhan ribu ekor dalam satu hamparan. Pentingnya lagi, infrastruktur mendukung," kata Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian Mursyid Maksum kepada detikFinance di ruangannya, Gedung C Kementerian Pertanian, Kamis (6/8/2015).
Mursyid menjelaskan, sebetulnya Indonesia punya potensi mengembangkan sapi indukan impor. Termasuk punya padang rumput yang luas seperti Australia di Indonesia Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, banyak aspek yang menyebabkan investasi pembibitan sapi sepi peminat. "Bisa dari aspek teknis, bisa dari aspek bisnis juga. Secara bisnis, pembibitan itu kan sama saja menyaingi Australia. Nanti nggak impor lagi kita dari sana. Secara teknis infrastruktur belum siap dan status lahan belum clean and clear," jelas Mursyid.
Pengembangan sapi lokal saat ini menurut Mursyid hanya dapat dilakukan peternak rakyat, yang dikembangkan satu peternak di bawah 5 ekor saja.
"Pengusaha nggak minat bermain di pembibitan. Selain untungnya ngga banyak, cashflownya hanya setahun sekali punya pemasukan. Polanya juga harus ekstensif atau dilepas di hamparan luas. Kalau di Jawa ngga mungkin lah ada lahan seluas itu. Di luar Jawa adanya di Indonesia timur dan infrastruktur belum siap," paparnya.
Menurut Mursyid, investor lebih tertarik investasi di bidang penggemukan sapi bakalan. Misalnya Australia, memilih mengembangkan sapi indukan untuk menghasilkan sapi bakalan karena lebih menguntungkan.
"Menurut saya, Australia akan tidak efisien kalau ngembangkan penggemukan sapi. Makanya kirim bakalan ke kita. Penggemukan butuh pakan konsentrat, biayanya mahal. Kalau indukan kan hanya butuh rumput nggak harus gemuk," terang Mursyid.
(hen/hen)











































