"Ekspor sebagian besar komoditas Indonesia sedang turun dan harganya pun sedang merosot, salah satunya karet. Secara alami akan mengurangi suplai, makanya catatan produksi juga turun," jelas Dedi Junaedi, Direktur Pemasaran Hasil Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, saat ditemui detikFinance usai pelantikan pejabat eselon II di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (7/8/2015).
Turunnya ekspor karet tercatat dalam data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Ekspor karet alam Indonesia hingga Juni 2015 tercatat 1.303.590 ton, atau turun 3,1% dari periode yang sama di 2014 sebesar 1.345.210 ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekspor karet turun, harus diatasi dengan memaksimalkan serapan atau pemakaian di dalam negeri. Misalnya karet diserap untuk bidang infrastruktur," jelas Dedi.
Dia menceritakan hasil kunjungannya ke Jepang beberapa waktu lalu untuk menjajaki ekspor. Ia menemukan karet banyak digunakan untuk bahan aspal jalan raya. "Aspal jalan raya di Jepang dicampur dengan karet alam. Nah artinya Indonesia punya harapan menyerap karet dalam negeri untuk infrastruktur juga," terang Dedi.
Produsen utama karet dunia adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Data hingga Agustus 2015 produksi karet Indonesia turun 7,3%, Thailand masih bisa tumbuh 15,5%, Malaysia turun 0,4% sedangkan Vietnam masih bisa tumbuh 20% dibanding triwulan I-2014.
(dnl/dnl)











































