Harga minyak dunia yang anjlok hingga menyentuh US$ 44 per barel memicu menurunnya pendapatan Arab Saudi. Padahal, 80% pendapatan Arab Saudi disumbang oleh sektor migas.
Di saat harga minyak dunia turun, justru anggaran belanja Arab Saudi meningkat drastis di sektor militer. Arab Saudi yang terlibat dalam misi pertempuran di Yaman hingga Suriah, memicu kenaikan anggaran militer dari 10% menjadi 17% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Diprediksi defisit anggaran Arab Saudi mencapai 20% dari PDB hingga akhir 2015. Kerajaan Arab dinilai harus bekerja keras membuat anggaran menjadi surplus. Pendapatan Arab juga diprediksi turun," tulis CNN seperti dikutip detikFinance, Sabtu (8/8/2015).
Alhasil, Arab Saudi membuka pintu mencari pinjaman dari dalam dan luar negeri. Tercatat, Pemerintah Arab Saudi pada bulan Juli lalu telah mengeluarkan surat utang atau obligasi US$ 4 miliar atau setara Rp 52 triliun. Obligasi ini diserap oleh perbankan lokal Arab Saudi.
Arab Saudi juga akan mencari pinjaman luar negeri hingga penghujung tahun. Arab Saudi diprediksi akan menerbitkan surat utang senilai US$ 5 miliar yang membidik investor luar negeri.
"Kita berencana mencari pinjaman dalam beberapa bulan ke depan," ujar Gubernur Bank Sentral Arab Saudi, Fahad al-Mubarak.
(feb/drk)











































