Harga Minyak Anjlok, Arab Saudi Defisit Anggaran

Harga Minyak Anjlok, Arab Saudi Defisit Anggaran

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Sabtu, 08 Agu 2015 09:18 WIB
Harga Minyak Anjlok, Arab Saudi Defisit Anggaran
foto: reuters
Jakarta - Arab Saudi kini sedang mengalami persoalan keuangan. Negara produsen minyak dunia ini mengalami penurunan pendapatan dari sektor minyak.

Harga minyak dunia yang anjlok hingga menyentuh US$ 44 per barel memicu menurunnya pendapatan Arab Saudi. Padahal, 80% pendapatan Arab Saudi disumbang oleh sektor migas.

Di saat harga minyak dunia turun, justru anggaran belanja Arab Saudi meningkat drastis di sektor militer. Arab Saudi yang terlibat dalam misi pertempuran di Yaman hingga Suriah, memicu kenaikan anggaran militer dari 10% menjadi 17% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum lagi langkah Raja Salman pada awal tahun yang membagikan bonus besar-besaran kepada pekerja sektor publik. Meski populis di mata warga, namun hal ini dinilai berperan menaikkan defisit anggaran di tengah menurunnya pendapatan negara dari sektor migas.

"Diprediksi defisit anggaran Arab Saudi mencapai 20% dari PDB hingga akhir 2015. Kerajaan Arab dinilai harus bekerja keras membuat anggaran menjadi surplus. Pendapatan Arab juga diprediksi turun," tulis CNN seperti dikutip detikFinance, Sabtu (8/8/2015).

Alhasil, Arab Saudi membuka pintu mencari pinjaman dari dalam dan luar negeri. Tercatat, Pemerintah Arab Saudi pada bulan Juli lalu telah mengeluarkan surat utang atau obligasi US$ 4 miliar atau setara Rp 52 triliun. Obligasi ini diserap oleh perbankan lokal Arab Saudi.

Arab Saudi juga akan mencari pinjaman luar negeri hingga penghujung tahun. Arab Saudi diprediksi akan menerbitkan surat utang senilai US$ 5 miliar yang membidik investor luar negeri.

"Kita berencana mencari pinjaman dalam beberapa bulan ke depan," ujar Gubernur Bank Sentral Arab Saudi, Fahad al-Mubarak.

(feb/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads