Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) Joni Liano, kepada detikFinance, Senin (10/8/2015).
Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), realisasi impor sapi bakalan kuartal I-2015 (Januari-Maret) adalah 97.618 ekor dari target 100.000 ekor. Kuartal II-2015 (April-Juni) terealisasi 201.643 ekor dari target 267.624 ekor. Total hingga Juni 2015, impor sebanyak 298.861 ekor sapi bakalan sudah terealisasi. Sedangkan kuota triwulan III-2015 hanya 50.000 ekor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Joni mengatakan, selama ini pola pasokan kebutuhan dengan distribusi alokasi impor berselang atau jeda setiap triwulan. Artinya alokasi impor sapi bakalan yang dikeluarkan triwulan III-2015, akan dipakai untuk kebutuhan pada triwulan IV-2015 dan seterusnya.
Rata-rata secara normal, kebutuhan sapi bakalan setiap bulan mencapai 60.000 ekor. Artinya, stok 140.000 ekor akan habis tak sampai 3 bulan. Meski ada tambahan alokasi triwulan III-2015 sebanyak 50.000 ekor sapi, maka stok alokasi normal hanya akan sampai Oktober 2015.
"Jadi kalau kita distribusikan normal, maka stok sampai hanya Oktober saja, tapi November dan Desember tidak ada stok," kata Joni.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menegaskan, stok sapi di perusahaan penggemukan sapi (feedloter) saat ini masih mencapai 160.000 ekor, atau cukup untuk 4 bulan kebutuhan.
Amran menegaskan, pemerintah memangkas izin impor sapi bakalan pada triwulan III-2015 hanya 50.000 ton, setelah mempertimbangkan kebutuhan. Ia mengakui, kalangan importir atau perusahaan penggemukan menghendaki lebih banyak.
"Sapi kita impor sesuai kebuhan bukan keinginan. Stok di feedloter sudah kami cek ada 160.000 ekor," tegas Amran.
(hen/dnl)











































