Kementerian Perhubungan (Kemehub) sebagai penanggungjawab proyek menyatakan, biaya pengembangan jaringan kereta di Papua tersebut tidak sedikit.
Secara geografis, rute kereta yang dilalui akan melewati pegunungan dan sungai. Hal ini memicu biaya konstruksi menjadi mahal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada pula biaya kemahalan yang harus dicadangkan dalam proyek kereta pertama di Papua itu. Harga dan ketersediaan material pendukung konstruksi menjadi pertimbangan memasukkan pos biaya kemahalan.
"Kalau mau bangun, batu kerikilnya dari mana, terus semennya bagaimana. Di sana kan relatif mahal. Kemudian harus mendatangkan SDM. Di sana muncul biaya kemahalan," ujarnya.
Kini, proyek kereta rute Sorong-Manokwari memasuki tahap studi kelayakan atau feasibility study. Dalam studi akan menghitung besaran biaya hingga rute yang dilewati. Fase ini ditargetkan tuntas pada tahun ini.
Selanjutnya, Kemenhub melakukan proses Detail Engineering Design (DED) di 2016. Berbarengan dengan DED, Kemenhub akan melakukan kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) hingga pembebasan lahan.
Proses konstruksi rencananya akan dilakukan selama 2 tahun yakni dari 2018 sampai 2019.
(feb/dnl)











































