China Kirim Proposal Kereta Cepat, Sofyan Djalil: Kami Putuskan Secepatnya

China Kirim Proposal Kereta Cepat, Sofyan Djalil: Kami Putuskan Secepatnya

Angga Aliya - detikFinance
Selasa, 11 Agu 2015 11:40 WIB
China Kirim Proposal Kereta Cepat, Sofyan Djalil: Kami Putuskan Secepatnya
Kereta cepat di China (Foto: Suhendra/detikFinance)
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin menerima kunjungan Menteri Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi China Xu Shaoshi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

Menko Perekonomian Sofyan Djalil yang mendampingi Jokowi mengatakan, dalam pertemuan itu delegasi Pemerintah China melaporkan hasil studi kelayakan (feasibility study) perusahaan China terhadap proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

"Pemerintah telah menerima hasil studi itu dan akan mempelajari serta memutuskannya dalam waktu secepatnya,” kata Sofyan seperti dikutip dari situs resmi Sekretaris Kabinet (Setkab), Selasa (11/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Shaoshi juga bertemu dengan beberapa pejabat negara lainnya saat menyampaikan hasil studi dan proposal proyek raksasa tersebut.

"Saya sudah bertemu dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Menteri BUMN, Menko Perekonomian, besok (hari ini) saya akan bertemu Wapres dan pejabat lainnya," kata Shaoshi.

Menurut Shaoshi, dalam delapan bulan terakhir, Jokowi dan Presiden China Xi Jinping sudah melakukan tiga kali pertemuan untuk meningkatkan kerja sama antar kedua negara.

Pertemuan ini menghasilkan beberapa rencana kerjasama, salah satunya adalah proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang ditandatangani nota kesepahamannya pada Maret 2015.

"Pada April dan Juni 2015 disepakati kerangka kerja dan pada hari ini diserahkan hasil studi kelayakan kepada Presiden Jokowi," papar Shaoshi.

Rel kereta cepat Jakarta-Bandung akan membentang 150 km mulai dari Bandung ke Halim, lanjut ke Gambir dengan jaringan yang sudah ada. Total ada 8 stasiun yang akan dilewati dengan kecepatan rata-rata 300-350 km/jam.

Negeri Tirai Bambu itu akan menyediakan fasilitas pinjaman dalam bentuk dolar AS dan yuan China. Tenor pinjamannya cukup panjang, yaitu 40 tahun dengan grace period (masa tenggang) 10 tahun.

"Kami jamin bisa rampung dalam tiga tahun, groundbreaking akhir Agustus 2015 dan selesai 2018 akhir," katanya.

Sementara untuk pengelolaan akan dilakukan oleh perusahaan bersama (join venture) BUMN Indonesia-China dengan porsi 60% kepemilikan Indonesia dan sisanya China.

"Kami serius ingin berbagi dengan Indonesia dalam mewujudkan kereta api cepat di Indonesia," kata Shaoshi.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads