Kenapa harga daging sapi tetap bertahan tinggi?
Direktur Eksekutif Apfindo Joni Liano mengatakan, penyebab utama harga daging sapi saat ini tinggi, karena tak seimbangnya antara permintaan dan penawaran. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, permintaan daging sapi tahun ini naik 8% dibandingkan 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Intinya persoalan demand (permintaan), demand meningkat tapi supply dibatasi, Pak Menteri Pertanian bilang sapi lokal cukup, sehingga kita tak impor banyak, karena impor itu harus sesuai dengan kebutuhan," kata Joni kepada detikFinance, Selasa (11/8/2015).
Ia mengatakan, konsekuensi alokasi impor yang turun drastis membuat para anggotanya mengendalikan pasokan sapi ke Rumah Potong Hewan (RPH). Tujuannya, harga stok yang ada saat ini 140.000 ekor ditambah 50.000 ekor bisa tersedia, sampai Desember 2015.
Menurut Joni, bila mengelontorkan kebutuhan sapi bakalan secara normal untuk Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat sebanyak 60.000 ekor per bulan, maka stok yang ada hanya cukup untuk Agustus-Oktober 2015.
Artinya ada kekosongan stok pada November dan Desember 2015. Untuk itu, alokasi sapi bakalan yang gelontorkan per bulan hanya 38.000 per ekor agar cukup sampai akhir tahun, namun dampaknya ada kekurangan 22.000 ekor sapi bakalan per bulan.
"Anggota kami merestrukturisasi penjualannya, karena stok menipis. Mengatur suplai agar stok sampai Desember, sebab kalau November-Desember nggak ada itu bisa ada PHK pegawai," katanya.
Joni mengatakan, tahun lalu ada impor sapi bakalan sebanyak 750.000 ekor, atau setara 20% dari kebutuhan sebanyak 3,6 juta ekor sedangkan sapi lokal mencapai 80%. Namun yang menjadi masalah, realisasi impor 750.000 ekor impor direalisasikan oleh importir, namun untuk sapi lokal tak ada jaminan apakah benar-benar bisa memasok 80% dari kebutuhan.
"Kalau yang impor 20% itu direalisasikan. Nah yang 80% realisasikan nggak? Akibatnya pembentukan harga baru," katanya.
Senada dengan Joni, Sekjen Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Afan Anugroho mengatakan, faktor permintaan dan pasokan menjadi utama penyebab harga daging sapi di dalam negeri bertahan tinggi hingga kini, bahkan sejak beberapa tahun lalu. Sebelum Lebaran hingga saat ini harga daging sapi rata-rata sudah di atas Rp 100.000/Kg.
Menurutnya, pasokan sapi lokal belum bisa sepenuhnya diandalkan untuk mengisi kekosongan dari dibatasi impor sapi bakalan impor. Bahkan, harga daging sapi lokal saat ini juga terus naik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Saat ini, harga bobot hidup sapi lokal Rp 42.000/kg, padahal pada 2010 harga bobot hidup sapi lokal hanya Rp 18.000-22.000/kg.
"Buktinya impor dikurangi harga tambah naik, ada apa dengan suplai lokal?" tanya Afan.
Afan juga mencatat, faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah juga turut menyumbang harga daging sapi bertahan tinggi. Para importir akan cenderung membebankan biaya kurs pada harga sapi hingga berdampak pada daging di pasar. Saat ini harga daging sapi bobot hidup di Australia mencapai US$ 3 per kg.
"Faktanya sekarang harga daging di Australia nggak turun, karena mereka jual ke pasar China. Dengan dolar yang naik tentu dikompensasikan dengan harga jual mereka. Apalagi suplai agak kurang sehingga menimbulkan spekulasi," katanya.
Ia juga menggarisbawahi, faktor pasokan sapi lokal saat ini ada indikasi berkurang karena ada upaya dari peternak untuk menahan harga sapi jantannya untuk dipotong. Para peternak menahan pasokannya hingga menjelang Idul Adha dengan harapan harga daging sapi bisa lebih mahal.
"Setiap tahun peternak menahan stok untuk kurban. Saat ini mereka menggemukan untuk persiapan kurban, jadi tak banyak dijual ke pasar," katanya.
Joni juga sepakat dengan apa yang disampaikan Afan, saat ini stok sapi lokal memang tertahan distribusinya karena ada upaya dari peternak lokal menjual sapinya saat Idul Adha nanti.
"Sapi impor dibatasi dengan harapan sapi lokal bisa mengisi, tapi kita lupa sapi lokal di tangan peternak untuk sampai Lebaran haji," kata Joni.
(hen/dnl)











































