Kepala BPS Suryamin menuturkan, meski komoditas daging sapi masuk dalam kategori 20 bahan pokok penyumbang inflasi terbesar, bobot kontribusi daging sapi tidak sesignifikan seperti halnya dengan beras.
"Daging lumayan. Tapi masih jauh di bawah beras, beras saja paling tinggi 4% sumbang inflasi, nggak ngaruh banyak. Ada 800 komoditas yang pengaruh pada inflasi. Baru kemudian daging ayam, sapi, dan ikan yang masuk," kaya Suryamin ditemui di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (12/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu ada (pengaruh), karena setiap komoditas punya bobot sendiri. Daging tinggi termasuk cabai juga. Tapi kalau bobot tertentu kaya daging harganya dilewatin naik 20 persen tetap harus diantisipasi," katanya.
Suryamin melanjutkan, menghubungkan kenaikan daging sapi dengan inflasi bulanan masih terlalu dini saat ini. "Tentu ini kan baru tanggal berapa. Tentu ada, karena setiap komoditas punya bobot sendiri. Tunggu saja apakah akan sampai akhir bulan naiknya," jelasnya.
Untuk mengatasi lonjakan harga sapi yang sudah terjadi di bulan Ramadhan lalu, Suryamin menyarankan pemerintah melakukan upaya pengendalian harga daging sapi dengan mendorong konsumsi ikan ketimbang menambah kuota impor.
"Pemerintah jangan hanya menurunkan harga dengan menaikan impor sapi. Tapi juga dengan bergeser ke ikan," tutupnya.
(rrd/rrd)











































