China Bikin Geger, Sektor Pertanian RI Bisa Terancam

China Bikin Geger, Sektor Pertanian RI Bisa Terancam

Rista Rama Dhany - detikFinance
Rabu, 12 Agu 2015 20:13 WIB
China Bikin Geger, Sektor Pertanian RI Bisa Terancam
Jakarta - Langkah 'geger' Bank Sentral China mendevaluasi (melemahkan mata uang) yuan berdampak pada rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah. Hal ini dapat menghantam sektor riil seperti pertanian khususnya petani.

Hal ini diungkapkan Presiden Advokasi Center For Indonesia Farmer, Sutrisno Iwantono, kepada detikFinance, Rabu (12/8/2015).

"Rupiah dan IHSG kita anjlok akibat yuan, ini ujungnya bisa mengancam para petani, mengapa? Karena barang dari China menjadi sangat murah sehingga bisa membanjiri Indonesia," ungkap Sutrisno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, produk-produk industri, mainan, sampai komoditas pertanian seperti kentang, jagung, bawang putih, bawang merah, cabai, hingga kakao bisa membanjiri Indonesia.

"Tentu ini mengancam petani kita. Jadi menteri-menteri baru yang dilantik, terutama Menko Perekonomian Darmin Nasution langsung 'lari' menyelesaikan masalah perekonomian kita, yang menurut saya sudah menuju lampu merah," katanya.

Apalagi, tambah Sutrisno, saat ini para petani sedang menghadapi ancaman El Nino, kemudian masyarakat kesusahan dengan harga daging yang sudah tembus Rp 140.000/kg.

"Kondisi sektor pertanian kita sangat riskan, daging, beras, gula, sampai masih banyaknya pupuk yang terlambat sampai ke petani. Ini harus segera menjadi perhatian lebih pemerintah terutama menteri ekonomi di kabinet kerja," ungkapnya.

Sutrisno menambahkan lagi, pemerintah khususnya Menko Perekonomian yang baru juga harus mempercepat belanja pemerintah, karena sampai saat ini penyerapan anggaran diberbagai kementerian masih minim.

"Kondisi perlambatan ekonomi global, pelemahan rupiah, harusnya belanja pemerintah bisa jadi stimulus, roda ekonomi jadi bergerak, uang terus berputar, tapi ternyata banyak di kementerian realisasi penyerapan anggarannya di bawah 20%, padahal ini sudah Agustus. Kita harapkan Menko yang baru bisa percepat belanja negara," tutupnya.

(rrd/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads