Chief Executive Officer (CEO) IAAXβ, Dendy Kurniawan mengatakan, bagi maskapai penerbangan yang fokus pada penerbangan internasional, penguatan mata uang dolar justru memberikan keuntungan, karena banyak transaksi dari luar negeri yang menggunakan dolar.
"Kalau saya di bisnis long haul Alhamdulillah, tidak begitu berpengaruh. Justru bagaimana ini bisa jadi keuntungan buat kita, karena banyak orang Australia pakai dolar bayarnya," tutur Dendy ditemui di sela peluncuran rute baru IAAX Bali-Sydney, di Cafe Sydney, Australia, Rabu (12/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IAAX punya beberapa rute internasional dengan hub di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali dengan tujuan Melbourne, Taipei, dan Sydney yang akan dibuka pada 17 Oktober 2015 nanti, juga Jakarta-Jeddah khusus penerbangan umroh. Dari rute tersebut, terutama rute Australia, load factor atau daya isi penumpang lebih banyak dari turis asing yang datang ke Indonesia. Itu sebabnya, lanjut Dendy, IAAX sedikit mendapat keuntungan dari kondisi ini.
"Mereka datang ke sini pun jadi lebih murah. Misalnya ke Bali, biasanya dia makan Rp 100 ribu, jadi AUD 10 (dolar Australia), sekarang hanya AUD 8. Jadi memang lebih banyak turis asing," jelasnya.
Meski begitu, Dendy juga mengatakan, pengaruh pelemahan rupiah terhadap dolar adalah dari biaya produksi. Beberapa komponen biaya seperti bunga cicilan pesawat, serta avtur atau bahan bakar dibayar menggunakan dolar.
"Tapi, siasat kita bagaimana memanfaatkan momen ini jadi keuntungan buat kita," jelasnya.
Tapi dia berharap, kondisi pelemahan rupiah ini tak terus berlanjut, dan ekonomi Indonesia kembali bisa tumbuh dengan cepat.
"Mudah-mudahan akan menaikkan pertumbuhan kita. Kita harap tak lama-lama seperti ini," katanya.
(zul/ang)











































