Rapat ini dihadiri Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menteri Perekonomian Darmin Nasution, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Heru Budiargo.
Secara keseluruhan, Bambang menilai, kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih dalam kondisi baik dan terkendali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang menjelaskan, dalam menyikapi gejolak ekonomi global, FKSSK sepakat untuk tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Saat ini, ujar Bambang, rupiah sudah dalam posisi tidak dalam fundamentalnya (undervalue).
"Stabilitas sistem keuangan masih terjaga. Hasil dari indikator surveillance masih terkendali. Namun rupiah dalam posisi tidak mencerminkan fundamentalnya (undervalue). FKSSK akan tetap waspada," jelas dia.
Lebih jauh Bambang menjelaskan, gejolak perekonomian Indonesia saat ini tak terlepas dari pengaruh ekonomi global. Terlebih, saat ini China telah melakukan devaluasi mata uangnya sehingga menekan perekonomian negara lain termasuk Indonesia.
"Faktornya lebih ke eksternal, khususnya Yuan. Jadi ini kombinasi antara sentimen eksternal dan kinerja emiten yang lebih rendah. Untuk itu FKSSK sepakat melakukan kebijakan," ucap dia.
Untuk menghadapi guncangan, Bambang menyebutkan, tim FKSSK difokuskan menjaga nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya. BI akan selalu ada di pasar untuk menjaga rupiah.
"Dalam mencegah pelemahan rupiah, FKSSK menumbuhkan komitmen untuk memperkuat sinergi kebijakan. Dalam jangka pendek meningkatkan investasi baik pemerintah maupun swasata. Pemerintah juga telah menyampaikan RUU JPSK kepada DPR. FKSSK optimis semester dua lebih baik," tandasnya.
(drk/ang)










































