Amran mencecar berbagai pertanyaan kepada Supply Chain Manager PT TUM Tri Nugrahwanto. Ia bertanya dari persoalan menahan stok, soal distribusi sapi ke RPH hingga soal harga daging bobot hidup di feedloter.
Ia mengkritik soal harga daging bobot hidup di feedloter terlalu mahal hingga Rp 42.000-45.000/kg. Padahal perusahaan penggemukan sapi milik BUMN saat Lebaran mampu menjual harga lebih murah Rp 30.000/kg bobot hidup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendapat pertanyaan dari sang menteri, Tri mencoba menyampaikan alasannya. Menurutnya dari stok 17.000 di PT TUM dan 4.000 di anak usaha PT TUM tak semuanya sebagai sapi siap potong, sebagian harus masih digemukan hingga batas minimal 450 kg bobot hidup.
"Kami tahu, tapikan tidak dipotong semua sapinya. Ada siap dipotong hari ini. Kan kita digemukan dulu 3 bulan di sini. Jadi kita ada hitungannya," kilah Tri beralasan.
Amran pun kembali bertanya soal harga daging sapi di feedloter terus naik. "Kemarin harga pas Lebaran Rp 30.000 per kg. Kenapa sekarang naik 45.000?" tanya Amran
"Saya kurang tahu persis," ujar Tri.
Mendengar jawaban singkat dari sang manajer, Amran kembali bertanya dan terus mendesak. "Kenapa naik. Jawab saja yang jujur, kita buka-bukaan saja," katanya.
Menurut Amran tak ada alasan kuat para feedloter menaikkan harga daging sapi bobot hidup, apalagi biaya pakan dan proses penggemukan tak mengalami kenaikan harga.
"Kenapa mesti naik? Apa pakannya naik atau bagaimana? Atau makannya sapinya nambah makanya kalian naikan?" tegas Amran dengan nada serius.
Tri mengatakan, alasan pihaknya menahan pasokan sapi ke pasar karena khawatir stok sapi habis di akhir tahun. Apalagi pemerintah memangkas jatah kuota impor sapi di triwulan III-2015.
"Jadi stok sapi kita kurang. Makanya kita tahan. Kita penuh kandang kita itu sampai 40.000. Tidak cukup stok. Memangnya pemerintah menyetok feedloter. Jadi kita kawatir saja (stok habis). Harganya otomatis naik. Agar stok bisa aman sampai Oktober," katanya.
(hen/rrd)











































