Ada Musim Kemarau, Mentan Maksimalkan Rawa untuk Lahan Padi

Ada Musim Kemarau, Mentan Maksimalkan Rawa untuk Lahan Padi

Lani Pujiastuti - detikFinance
Kamis, 13 Agu 2015 15:28 WIB
Ada Musim Kemarau, Mentan Maksimalkan Rawa untuk Lahan Padi
Jakarta - Lahan rawa lebak dan pasang surut punya potensi untuk menambah produksi padi nasional di tengah kekeringan akibat kemarau akibat el nino. Tercatat ada 34,3 juta hektar lahan rawa, sekitar 19,99 juta hektar (57,24%) merupakan lahan potensial untuk pertanian

Keunggulan lahan rawa sebagai lumbung pangan di musim kemarau dan masa depan antara lain air berlimpah, lahan cepat pulih karena tersedia air, saluran air berfungsi sebagai sarana transportasi. Sedangkan area sawah konvensional hanya 9,2 juta hektar khusus untuk padi.

Sebanyak 90% lahan rawa berada di dataran rendah dan produksi pada September-Desember saat defisit beras. Selain itu, lahan rawa lebih tahan terhadap perubahan iklim, dan hasil biji-bijiannya lebih kaya zat hara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak Kementerian Pertanian menyatakan akan menambah luas tanam padi di lahan rawa dan menggenjot agar lahan rawa bisa ditanam dua kali.

"Bagi daerah pasang surut, kekeringan adalah rahmat. Kami bantu lahan rawa yang semula panen satu kali menjadi panen dua kali dengan memberi alsintan, benih, dan pupuk. Ada tambahan 1 juta ton tahun ini dari panen lahan rawa. Kalau Indonesia bagian selatan kena el-nino, utara ngga. Kemarau adalah rahmat lahan rawa," jelas Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman saat rapat koordinasi mitigasi kekeringan dan antisipasi 2016 di Auditorium Kementerian PU Pera, Kamis (13/8/2015).

Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto mengatakan lahan rawa dipacu untuk menambah surplus luas tanam.

"Lahan rawa itu kalau musim kemarau produksi tinggi, hamanya rendah. Potensinya ada 379.000 hektar di Sumsel, total Sumatera ada 536.000 hektar dan di Kalimantan ada 176.000. Rawa selama ini hanya tanam sekali, kami optimalkan tanam dua kali," jelas Gatot.

Gatot menjelaskan, lahan rawa dapat menambah surplus di tengah lahan sawah terdampak kekeringan mencapai 200.000 hektar. "Kekeringan ini antisipasinya banyak. Oktober-Maret ada tambahan luas tanam 400.000 hektar. April-Juli ada tambahan luas tanam lagi 200.000 hektar. Ini saja sudah nutup lahan terdampak kekeringan," terang Gatot.

Gatot menyampaikan lahan puso sampai saat ini hanya 18.000 hektar, angka tersebut dinilai kecil jika dibanding total luas tanam hingga 14 juta hektar dan dinilai wajar di tengah kekeringan.

"Kalau ngga ada puso malah ngga normal. Luas tambah tanam itu di Kalimantan, Sumatera dan sebagian daerah itu tidak terdampak el-nino jadi tetap panen dan menutup kehilangan akibat puso," kata Gatot.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads