Ada Suhu Ekstrem, 200 Hektar Lahan Kentang di Dieng Gagal Panen

Ada Suhu Ekstrem, 200 Hektar Lahan Kentang di Dieng Gagal Panen

Arbi Anugrah - detikFinance
Kamis, 13 Agu 2015 19:48 WIB
Ada Suhu Ekstrem, 200 Hektar Lahan Kentang di Dieng Gagal Panen
Banjarnegara - Suhu ekstrem telah merusak ratusan hektar lahan kentang di Dataran Tinggi Dieng. Dataran Tinggi Dieng berada di perbatasan antara Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah.

Masyarat lokal menyebutnya sebagai fenomena embun upas atau embun yang menjadi es sudah terjadi sejak awal Agustus. Akibat suhu ekstrem di bawah 0 derajat celcius tersebut ratusan hektare (Ha) lahan tanaman kentang mati.

"Di sekitar Dataran Tinggi Dieng perbatasan antara Banjarnegara dan Wonosobo, ada sekitar 200 hektar tanaman kentang yang mati. Petani rugi besar, karena setiap hektar petani sudah mengeluarkan ongkos produksi sekitar Rp 15 juta bahkan lebih. Sehingga, uang tersebut tidak mungkin kembali setelah tanaman kentangnya mati," kata salah seorang petani di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Saroji (54) Kamis (13/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya embun upas sudah mulai turun sejak awal Agustus lalu hingga sekarang menyebabkan banyak tanaman kentang yang mati seperti terbakar.

"Embun upas tidak turun setiap hari. Tapi memasuki bulan Agustus sekarang kerap turun. Tanaman kentang yang terkena embun upas seperti terbakar, daunnya mengering akibat embun upas tersebut," ujarnya.

Sementara menurut Solimin (45) petani lainnya mengatakan jika petani tidak dapat mengantisipasi datangnya embun upas tersebut. Meskipun petani sudah menutup lahan kentang dengan kain kasa dan plastik tapi tanaman kentang tetap saja terkena embun upas.

Tingkat kerusakan tanaman kentang tersebut berkisar antara 60-80 persen sehingga mengharuskan para petani memanen dini jika tidak ingin tanaman kentangnya semanin rusak. Wilayah yang terkena embun upas biasanya merupakan daerah lembah.

"Biasanya umur panen kentang sekitar 4 bulan, tapi karena adanya embun upas, maka baru memasuki usia 3 bulan, sudah kami panen. Hasilnya juga tidak maksimal. Dalam satu hektar paling hanya panen hingga 5 ton saja. Padahal, biasanya mampu mencapai kisaran 15 ton. Mau bagaimana lagi, petani mengalami kerugian akibat dilanda embun upas tersebut," jelasnya.

(arb/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads