Masyarat lokal menyebutnya sebagai fenomena embun upas atau embun yang menjadi es sudah terjadi sejak awal Agustus. Akibat suhu ekstrem di bawah 0 derajat celcius tersebut ratusan hektare (Ha) lahan tanaman kentang mati.
"Di sekitar Dataran Tinggi Dieng perbatasan antara Banjarnegara dan Wonosobo, ada sekitar 200 hektar tanaman kentang yang mati. Petani rugi besar, karena setiap hektar petani sudah mengeluarkan ongkos produksi sekitar Rp 15 juta bahkan lebih. Sehingga, uang tersebut tidak mungkin kembali setelah tanaman kentangnya mati," kata salah seorang petani di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Saroji (54) Kamis (13/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Embun upas tidak turun setiap hari. Tapi memasuki bulan Agustus sekarang kerap turun. Tanaman kentang yang terkena embun upas seperti terbakar, daunnya mengering akibat embun upas tersebut," ujarnya.
Sementara menurut Solimin (45) petani lainnya mengatakan jika petani tidak dapat mengantisipasi datangnya embun upas tersebut. Meskipun petani sudah menutup lahan kentang dengan kain kasa dan plastik tapi tanaman kentang tetap saja terkena embun upas.
Tingkat kerusakan tanaman kentang tersebut berkisar antara 60-80 persen sehingga mengharuskan para petani memanen dini jika tidak ingin tanaman kentangnya semanin rusak. Wilayah yang terkena embun upas biasanya merupakan daerah lembah.
"Biasanya umur panen kentang sekitar 4 bulan, tapi karena adanya embun upas, maka baru memasuki usia 3 bulan, sudah kami panen. Hasilnya juga tidak maksimal. Dalam satu hektar paling hanya panen hingga 5 ton saja. Padahal, biasanya mampu mencapai kisaran 15 ton. Mau bagaimana lagi, petani mengalami kerugian akibat dilanda embun upas tersebut," jelasnya.
(arb/hen)











































