Kemendag: Tidak Semua Feedloter Menahan Pasokan Daging

Kemendag: Tidak Semua Feedloter Menahan Pasokan Daging

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 17 Agu 2015 14:42 WIB
Kemendag: Tidak Semua Feedloter Menahan Pasokan Daging
Jakarta - Kementerian Perdagangan menyatakan, tidak semua sentra penggemukan sapi (feedloter) menahan pasokan hingga menyebabkan harga daging sapi meroket sampai Rp 140 ribu/kg di pasaran.

Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Karyanto Suprih, menjelaskan bahwa sebenarnya feedloter pun rugi jika menimbun sapi terlalu lama. Normalnya, sapi bakalan impor hanya digemukan selama 3 bulan lalu dipotong dan dagingnya dijual ke pasar.

Jika dikandangkan lebih dari 3 bulan, feedloter harus menanggung biaya pakan yang lebih tinggi, sementara berat sapi sudah tidak bertambah lagi pasca 3 bulan. Karena itu, feedloter pun berkepentingan untuk segera menggelontorkan sapi-sapinya ke pasar.

"Tidak semua feedloter itu tidak baik. Kalau menahan barang, (sapi bakalan) 3 bulan atau 120 hari sudah harus dipotong karena pakannya mahal, sudah nggak tambah gemuk juga, malah nggak laku dijual nanti," papar Karyanto saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Senin (17/8/2015).

Dia menambahkan, setiap perusahaan pemilik feedloter memiliki mekanisme untuk mengatur agar sapinya tidak habis sebelum waktunya. Jika habis sebelum waktunya, arus kas perusahaan terganggu. Tindakan ini, menurutnya, tidak bisa disebut menahan pasokan.

"Perusahaan kan punya mekanisme, dia harus atur caranya mengeluarkan (sapi), misalnya dia punya barang 10 bagaimana biar nggak cepat habis. Mungkin dari cara dia ngatur (pasokan), cashflow-nya berpengaruh," terang Karyanto.

Namun, untuk mencegah para importir dan feedloter mempermainkan harga dan pasokan, pemerintah perlu berperan. Karena itu, Kemendag kini berupaya memperbesar peran Perum Bulog dalam pengendalian harga daging sapi dengan memberikan izin impor sebanyak 50 ribu ekor sapi siap potong.

"Negara ingin hadir dan berperan, personifikasinya adalah Bulog. Kita sudah beri (izin) 50 ribu ekor (sapi siap potong). Tentu Bulog siap, dia sudah punya jalur, dia bisa gandeng siapa saja," tandasnya.

Sebagai informasi, Karyanto menyebutkan bahwa realisasi impor sapi bakalan per 31 Juli 2015 adalah 13,7% dari total izin yang diberikan sebanyak 50 ribu ekor. Dirinya yakin para importir akan segera merealisasikan seluruh izin impor yang telah diterbitkan.

"Realisasi kuartal 3 sekarang sudah 13,7% per 31 Juli 2015. Secara fisik baru segitu, tapi kan ada (sapi impor) yang sudah dikapalkan, mesti booking kapal dulu, kelihatannya realisasi (50 ribu ekor) bisa tercapai," ucapnya.

Sementara itu, Perum Bulog belum merealisasikan impor 50 ribu ekor sapi potong karena masih dalam proses negosiasi dengan pemasok. "Bulog kan baru kemarin (diberi izin). Itu kan ada proses bisnis, negosiasi, minggu kedua atau minggu ketiga bulan ini baru selesai," pungkasnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads